ADVERTISEMENT

Di Tengah Dualisme Federasi, Liga Tenis Meja Dihelat Kembali

Mohammad Resha Pratama - Sport
Minggu, 06 Mar 2022 08:31 WIB
DOHA, QATAR - NOVEMBER 29:  A Chinese player grips the racquet during the Womens Team round one at 15th Asian Games Doha 2006 at Al-Arabi Indoor Hall November 29, 2006 in Doha, Qatar.  (Photo by Christof Koepsel/Getty Images for DAGOC)
Ilustrasi tenis meja (Getty Images for DAGOC/Christof Koepsel)
Jakarta -

Persoalan dualisme kepengurusan tenis meja belum juga usai. Tapi, hal itu tidak menghalangi niatan untuk menghelat Liga Tenis Meja Indonesia 2022.

Olahraga tenis meja memang lagi dalam titik nadir karena adanya kepemimpinan ganda di Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI). Menurut catatan detikSport pada 2019, bahkan sempat ada tiga kepengurusan, yakni kubu Oegroseno, Lukman Eddy, dan Peter Layardilay.

Pada perjalanannya hanya tinggal Oegroseno dan Pieter yang bertahan sampai saat ini. Sayangnya, belum ada titik temu terkait sengketa kepemimpinan itu dan berimbas pada prestasi tenis meja Indonesia.

Perkembangannya jadi terhambat dan mereka bahkan tidak ikut dalam dua edisi SEA Games terakhir di Malaysia 2017 dan Filipina 2019. Lebih menyedihkan KONI tidak mempertandingkan tenis meja pada ajang PON Papua 2020.

Padahal tenis meja Indonesia sempat rutin mengirimkan atlet ke Olimpiade di era 90-2000an, seperti Toni Meringgi (Olimpiade Seoul 1988), Anton Suseno (Olimpiade Barcelona 1992, Olimpiade Atlanta 1996, Olimpiade Sydney 2000), Lingling Agustin (Barcelona 1992), Rossy Syech Abubakar (Barcelona 1992, Atlanta 1996, Sydney 2000), dan Ismu Harinto (Sydney 2000).

Maka dari itu, sambil menunggu perdamaian di tubuh kepengurusan PTMSI, maka ada satu sosok yang mau menghidupkan lagi olahraga tenis meja. Dia adalah ayah pecatur Indonesia GMW Irene Kharisma, Singgih Yehezkiel, yang mengadakan Liga Tenis Meja Indonesia 2022.

Sesuai jadwal, kompetisi tersebut akan digelar selama tiga seri, dengan seri pertama di Bandung 3-5 Juni 2022. Lalu, Jakarta jadi tuan rumah PTM AIF dan ditutup di Nusa Tenggara Barat. Dua seri terakhir bakal digulirkan dua bulan setelah seri Bandung.

"Saya tidak punya kepentingan apa-apa dan tidak memihak salah satu pihak. Sebagai pecinta tenis meja, saya hanya ingin olahraga tenis meja kembali populer seperti dulu lagi. Dan, saya ingin melihat atlet-atlet muda tenis meja kembali berkompetisi. Mengobati kerinduan mereka akan pertandingan berkualitas sekaligus mengobati kerinduan bagi pecinta tenis meja yang ingin melihat idolanya berlaga di Liga Tenis Meja Indonesia," kata Singgih dalam rilis kepada detikSport.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT