Freeport dan PB PASI Jalin Kerja Sama, Jaring Atlet Potensi Papua

Mercy Raya - Sport
Rabu, 13 Apr 2022 13:15 WIB
PASI bekerja sama dengan PT Freeport.
PT Freeport bekerja sama dengan PB PASI. (Foto: detikcom/Mercy Raya)
Jakarta -

Keinginan PB PASI untuk menggelar pemusatan latihan nasional secara desentralisasi di Mimika Sport Complex akhirnya terwujud.

Hal itu dibuktikan dengan dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang berlangsung di Hotel Atlet Century, Jakarta, pada Rabu (13/4/2022).

Perjanjian kerja sama ini ditandatangani oleh Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas dan Ketua Umum PB PASI Luhut Binsar Pandjaitan, dengan disaksikan oleh Sekjen PB PASI Tigor Tanjung.

MSC sendiri merupakan wujud kepedulian PTFI pada olahraga di Papua khususnya cabang olahraga atletik. Hal ini tidak lepas dari hubungan baik yang sudah lama berlangsung antara PTFI dan PB PASI.

Pada saat digunakan sebagai venue atletik PON XX tahun lalu, Luhut menyampaikan gagasan pelaksanaan pelatnas di MSC yang khusus diisi oleh atlet dan pelatih yang berasal dari Papua. Gagasan ini disambut baik oleh manajemen PTFI dan bersedia mendukung.

"Saya kira sudah akan jalan. Tidak ada masalah. Tinggal nanti mereka rekrut pelatih internasional di sana sehingga dengan kualitas pelatih yang bagus, makan, fasilitas, dan bibit-bibit bagus, saya kira kita pasti melahirkan atlet-atlet nasional dari sana," kata Luhut usai acara.

Sebagai tahap awal, pelatnas di Timika akan diikuti oleh 19 orang atlet dan 8 orang pelatih. Mereka adalah hasil seleksi yang dilakukan tim Pembinaan PB PASI selama berlangsungnya PON XX yang lalu dengan kriteria prestasi di kisaran 5 besar SEA Games.

"Selain berlatih dan dievaluasi secara periodik, melalui program yang didesain PB PASI, para atlet juga akan mendapatkan kesempatan bertanding di luar negeri Sebanyak 9 staf pendukung seperti dokter, masseur, dan psikolog yang akan dilibatkan juga dalam kegiatan ink," ujarnya.

Luhut sendiri memberi perhatian besar pada prestasi atletik Papua karena dinilai mengalami penurunan. Hal ini terlihat melalui keikutsertaan Papua dalam PON. Pada tahun 2004 Papua merebut 10 medali emas, namun merosot tajam sehingga tahun 2012, 2016, dan 2021 hanya memperoleh 1 medali emas.

Padahal sebelumnya, Papua selalu menjadi bagian utama kekuatan tim atletik Indonesia dengan prestasi-prestasi internasionalnya. Masyarakat tentu masih ingat sprinter Franklin Burumi yang membuat prestasi fenomenal dalam nomor 100 meter dan estafet 4 x 100 meter ketika SEA Games 2011 di Palembang.

Program Pelatnas Desentralisasi di Timika akan dievaluasi bersama oleh PB PASI dan PTFI setiap tahun sampai 3 tahun ke depan.

Luhut optimistis program ini akan memberikan hasil positif bagi peningkatan prestasi atletik di Papua. Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi ini juga berharap pelatnas desentralisasi seperti di Timika ini dapat dilaksanakan di provinsi-provinsi lain.

"Sudah sepatutnya kita memberi perhatian besar pada atletik adalah ibu dari semua cabang olahraga. Banyak talenta yang bisa dijaring bila kegiatan pembinaan dan kompetiSi dilaksanakan dengan lebih baik di provinsi-provinsi," kata Luhut.

Sementara itu, Tony mengatakan total anggaran yang dikucurkan dalam proses kerja sama ini sekitar Rp 20 miliar. Jumlah itu di luar akomodasi dan tiket.

"Kalau tiga tahun pertama sekitar Rp 20 miliar," sebut Tony.

"Itu cash ya. Di luar pesawat dan tempat menginap," Sekretaris Jenderal PB PASI Tigor Tanjung.

(mcy/cas)