Tim Review PPON Buka Paradigma Baru Olahraga Indonesia

Tim Detikcom - Sport
Rabu, 27 Apr 2022 23:30 WIB
Menpora Zainudin Amali
Kemenpora kunjungi Pelatnas PB PABSI jelang SEA Games 2021 (dok.Kemenpora)
Jakarta -

Kehadiran Tim Review PPON Kemenpora dipertanyakan publik. Tapi, bagi pengurus cabang olahraga, Tim Review justru membuka paradigma baru di olahraga nasional.

Tim Review PPON yang dibuat di era Menpora Zainudin Amali memang lagi disorot tajam setelah keputusannya mencoret pesenam Sutjiati Narendra dari tim SEA Games 2021. Keputusan ini banyak dipertanyakan termasuk oleh Komisi X DPR RI.

Namun, PB Persani tetap bersikukuh bahwa prestasi Sutijati tidak lolos kualifikasi dan masih kalah ketimbang Rifda Irfanalutfhi yang lebih berpengalaman. Hal inilah yang lantas jadi pertimbangan Tim Review memilih Rifda Irfanalutfhi yang lebih berpengalaman.

Wajar jika keberadaan Tim Review dipertanyakan karena mereka baru terbentuk, tapi sudah berani mengeluarkan keputusan semacam itu. Tak cuma itu, Tim Review pula yang memangkas jumlah cabor dan atlet yang berangkat ke SEA Games nanti, menjadi 31 cabor dan 476 atlet.

Meski banyak diperdebatkan, keberadaan Tim Review ini justru disambut positif oleh para cabor, salah satunya PB Persani. Menurut Persani, kehadiran Tim Review ini membuka paradigma baru olahraga di Indonesia.

Ini berkaitan dengan pembinaan prestasi yang sudah tertuang dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) dan Undang-Undang Keolahragaan. Dengan adanya Tim Review, para pengurus olahraga jadi paham mana cabor yang memang berprestasi dan mana yang tidak.

Sehingga ke depannya tidak terjadi lagi polemik soal pengiriman atlet.

"Sebenarnya sudah banyak perubahan tentang adanya sistem di Kemenpora, di mana administrasinya pun sudah tertata dengan baik, meskipun kedepannya mungkin diperlukan juga banyak komunikasi serta diskusi antara Tim Review dengan PB/PP, khususnya Persani, dimana banyak atlet-atlet yang memang perlu kita tingkatkan lagi," kata Dian Arifin selaku Wakil Ketua Umum PB Persani dalam rilis kepada detikSport.

Pada SEA Games 2019 di Manila, Indonesia cuma menempati posisi keempat dengan 72 emas meski mengirimkan 841 atlet yang turun di 52 cabor. Hal ini dianggap Tim Review dan Kemenpora merupakan sebuah hal sia-sia. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 saat ini, pemerintah sedang mengetatkan anggaran di bidang olahraga.

Menpora Zainudin AmaliMenpora Zainudin Amali kunjungi Pelatnas PB Persani Foto: dok.Kemenpora

Oleh karenanya, SEA Games kini cuma dijadikan sasaran antara untuk persiapan menuju ajang yang lebih besar seperti Kualifikasi Olimpiade 2024 dan Asian Games 2022.

Dengan adanya mekanisme baru seperti ini, diharapkan lebih banyak lagi atlet Indonesia yang tampil di Olimpiade dan berprestasi. Tak lagi cuma mengandalkan bulutangkis dan angkat besi sebagai pendulang medali.

"Saya setuju, ketegasan dalam olahraga perlu, sekian lama hanya dua cabor yang diikuti di olimpiade. Semoga dengan paradigma baru ini bisa lebih banyak cabor yang akan lolos ke olimpiade," kata Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI) Djoko Pramono.



Simak Video "Sosialisasi DBON 2021 di Jawa Barat Resmi Dibuka"
[Gambas:Video 20detik]
(mrp/yna)