Upaya Ketua KOI Atasi Kasus Pelecehan dan Kekerasan kepada Atlet

Upaya Ketua KOI Atasi Kasus Pelecehan dan Kekerasan kepada Atlet

Randy Prasatya - Sport
Senin, 16 Mar 2026 00:17 WIB
Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, mengharamkan adanya pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap atlet. Dia pun memerintahkan Satuan Tugas (Satgas) Safeguarding Atlet untuk menyusun standar prosedur perlin
Foto: Naif Muhammad Al as/Naif Muhammad Al as
Jakarta -

Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI/NOC Indonesia), Raja Sapta Oktohari, mengharamkan adanya pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap atlet. Dia pun memerintahkan Satuan Tugas (Satgas) Safeguarding Atlet untuk menyusun standar prosedur perlindungan atlet dan pelatih.

Sebagai mantan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (PB ISSI), Okto sangat memahami strategi yang harus diambilnya dalam upaya meminimalisir terjadinya kasus pelecehan seksual dan kekerasan fisik terhadap atlet sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan Komite Olimpiade Internasional (IOC).

"Atlet dan pelatih merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam meningkatkan prestasi olahraga Indonesia. Jadi, kita perlu membuat standar prosedur dalam upaya meminimalisir kasus tersebut sesuai dengan aturan yang ditetapkan IOC. Yang pasti, NOC Indonesia tidak akan mentolerir kasus pelecehan seksual dan juga kekerasan atlet. Kenyamanan di lingkungan olahraga itu mutlak harus dilakukan," kata Okto.

Okto juga menekankan bahwa perlindungan juga harus terhadap pelatih. Hal itu guna untuk tidak memunculkan ketakutan pelatih dalam menjalankan tugasnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Prinsipnya bukan hanya atlet tetapi perlindungan terhadap pelatih juga perlu dilakukan. Makanya, rambu-rambu mengenai pelecehan seksual ataupun kekerasan seksual itu harus dibuat dengan baik. Jangan sampai ada muncul ketakutan pelatih untuk menjalankan tugasnya yang bisa berdampak terhadap prestasi atlet. Mereka juga kan aset," jelasnya.

Lebih jauh Okto mengungkapkan, antisipasinya terhadap kasus pelecehan seksual sudah pernah dilakukannya saat memimpin PB ISSI. Caranya, dia memaksimalkan peran pelatih, manajer, dan juga Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PB ISSI.

ADVERTISEMENT

"Saat itu, saya memastikan pelatih, manajer dan juga Ketua Bidang Pembinaan Prestasi berfungsi dengan baik. Dan, saya juga selalu memantau jalannnya program pelatnas dan juga sesekali turun ke lapangan untuk memastikan kondisinya berjalan dengan baik," jelasnya lagi.

Berdasarkan pengalaman itu maka Okto mengimbau agar apa yang terjadi di berita belakangan ini jangan sampai menjadi ancaman dalam mendorong kualitas pelatihan di cabang olahraga.

"Cabang olahraga apapun itu karena saat ini kita juga sedang menghadapi tantangan Gen Z yang sangat sensitif dengan pola-pola aturan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Kita mau membentuk generasi yang tangguh sehingga prosesnya pun harus disesuaikan dengan aturan-aturan yang sudah disepakati," ucapnya.

"Kalau kita lihat di negara-negara lain kita cukup familiar bagaimana China dengan proses pelatihannya atau Korea yang cukup tegas dalam jalankan disiplinnya. Jadi, jangan diberikan celah dengan keraguan-keraguan sehingga proses pelatihannya menjadi tidak maksimal," Okto menjelaskan.

Secara garis besar, Okto meminta setiap cabang olahraga harus tegas dan melaksanakan sistem monitoring terhadap proses pelatihan. Hal ini juga perlu terus dikoordinasikan dengan orang tua, pelatih, kepala pelatih, manajer, binpres, dan pimpinan organisasi sehingga memahami sistem monitoring tersebut.

"Pelatihannya itu bisa maksimal secara komprehensif. Tidak ada keraguan, baik itu dalam proses pelatihan karena sesuai aturan main dari cabor tersebut. Sehingga orang tua juga bisa familiar dengan proses pelatihan yang dilakukan," paparnya.




(ran/bay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads