Ketiga ajang yang dimaksud adalah SEA Games 2009 dan 2011 serta Asian Games 2010. Demikian pemaparan Menegpora Adhyaksa Dault di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta, Selasa (5/2/2008).
Dasar penyusunan program ini adalah momentum SEA Games 2007, di mana Indonesia berhasil memperbaiki peringkat dari empat menjadi lima, serta political will dari pemerintah, serta belum adanya program sejenis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara umum atlet utama masih berusia muda dan berpotensi memperoleh medali emas di SEA Games. Mereka prioritasnya disiapkan untuk SEA Games 2009, dan jika masih potensial akan diteruskan ke dua ajang lainnya itu.
Sementara atlet Pratama disiapkan untuk 2009, dan yang memenuhi syarat bisa dilibatkan untuk Asian Games 2010. Sedangkan atlet yunior untuk Asian Games 2010 dan SEA Games 2011.
Untuk pendanaan, atlet utama dibiayi oleh APBN, berkisar Rp 100-125 miliar. Adapun atlet yunior akan dititipkan ke BUMN-BUMN sebagai anak angkat. Kontrak "anak angkat-bapak asuh" itu berdurasi empat tahun, dan masing-masing atlet kira-kira cost-nya Rp 1 miliar per tahun. Untuk atlet pratama, porsi pendanaannya sebagian dari APBN, sebagian dari BUMN.
"Ini semua sudah dikoordinasi dengan Meneg BUMN dan sudah disepakati polanya seperti ini," ujar Adhyaksa Dault.
Mengenai penentuan kriteria, cabang dan atlet, hal tersebut akan dilakukan oleh tim program ini, yang bebas dari intervensi pemerintah. Program ini juga baru berkonsentrasi pada atlet invididu, sedangkan atlet berebu akan dipikirkan kemudian.
Dalam struktur, Satgas SEA Games 2007, Ahmad Sucipto, ditunjuk sebagai ketua. KOI, Menegpora, dan pakar menjadi dewan Pembina, sedangkan Menegpora juga menjadi penanggung jawab tertinggi.
"Siapapun menterinya, siapapun presiden setelah Pemilu 2009, program ini harus tetap berjalan," tukas Menengpora, yang menargetkan akhir Februari konsolidasi sudah selesai, sehingga di awal Maret sudah ada atlet yang terpilih.
(a2s/key)











































