Ketidakadilan yang kerap dialami oleh kontingen DKI ini dibuka dalam konferensi pers yang berlangsung di Posko Kontingen DKI Samarinda, Rabu (16/07/2008) siang.
"Di cabang menembak, DKI menjadi juara di nomor 50 meter Air Rifle Three Position individual dan beregu putri sebagaimana menurut juri yang sah. Namun UPP (Upacara Penghormatan Pemenang) tidak dilaksanakan dengan alasan kedua cabang ini dianulir dari penyelenggaraan PON," ungkap Wakil Ketua Kontingen DKI, Eddy Widodo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan-keputusan merugikan juga dialami oleh kontingen DKI di cabang olahraga terukur, seperti halnya yang terjadi pada sepatu roda. Menurut juri kedatangan, DKI finis di urutan pertama tapi menurut pencatat waktu, DKI ada di urutan dua.
"Di kempo juga seperti itu. Padahal di papan skor elektronik tertulis nilai DKI unggul. Tapi, saat diumumkan ternyata DKI kalah. Panitia menyatakan bahwa ada kesalahan teknis pada pemasukan angka di papan skor," ujarnya dengan nada heran.
Jika menilik ke belakang, dua kejadian di atas bukanlah kali pertama DKI merasa dirugikan. Sebelumnya, di cabang pencak silat dan loncat indah, DKI juga mengalami hal serupa. Sikap panitia dinilai pihak DKI sangat merugikan, tak hanya untuk perolehan medali tapi juga soal akomodasi dan lainnya.
"Ini bukan soal kalah atau menang, tapi sportivitas, fair play. PON ini tolak ukur olahraga nasional. Kalau dulu kita pikir rival kita itu hanya atlet-atlet di lapangan, tapi sekarang rival kita tambah satu yaitu PB PON," tandasnya.
(roz/din)











































