Masukkan kata pencarian minimal 3 karakter
Searching.. Please Wait
    Pandit

    Last Tango in Milan

    - detikSport
    REUTERS/Alessandro Garofalo REUTERS/Alessandro Garofalo
    Jakarta -

    Kayu tua sangat baik untuk dibakar, anggur tua sangat bagus untuk diminum, pemain tua tahu saat yang tepat untuk menarikan tango terakhirnya.

    Dan saat seperti itu datang di menit ke-52. Lagu terakhir untuk seorang Javier Zanetti pun terlantun dengan rancak dari arah tribun yang menggemuruhkan applause panjang, seakan sebuah koor yang menjadi latar. Legenda itu akan menggelar tango terakhirnya.

    Bagi seorang penari Tango, kaki adalah segalanya. Berbeda dengan samba yang menggunakan seluruh badan sebagai ekspresi individualitas dan keindahan, Tango menyampaikan pesan dengan cara lain. Tubuh bagian atas menempel dengan pasangan dengan pose yang nyaris sama sepanjang lagu, sementara dua pasang kaki lincah bergerak. Menghentak, memutar, menendang, menyilangkan kaki, dengan step yang mengikuti irama musik.

    Melangkah, melangkah, melangkah, berhenti, melangkah, berhenti, melangkah, melangkah, berhenti.

    Ya, kaki memang jadi bagian besar dari tarian ini.

    Terlahir di Buenos Aires --kota di mana Tango dan sepakbola tumbuh subur dan menjamur-- Zanetti memang seolah melakukan tarian itu di atas lapangan. Sebagaimana seorang penari, ia memiliki kedua kaki yang sama kuatnya. Sebagaimana seorang penari, ia juga tahu kemana melangkah dan terutama membaca ritme permainan.

    Menarikan Tango di milonga (tempat-tempat dansa untuk masyarakat Argentina bersosialisasi lewat tarian) sesungguhnya adalah upaya untuk bergerak mencari ruang. Milonga umumnya disesaki ratusan psangan yang juga sibuk dan lincak bergerak memanfaatkan ruang. Jika kurang awas dan tak terlatih, salah-salah bisa menginjak kaki orang, keliru memutar badan, atau bertumbukan dengan pasangan lainnya.

    Ketika pensiunan Letkol Frank Slade yang buta namun kharismatik dalam film 'Scent of Woman' nekat mengajak seorang gadis cantik untuk menarikan tango di sebuah restoran, yang dia tanyakan adalah berapa kira-kira luas ruangan yang bisa dijelajahi sebagaimana milonga. Pertama, karena si pensiunan letkol yang diperankan dengan cemerlang oleh Al Pacino itu memang buta; kedua, karena Tango memang soal bagaimana ruang bisa dan sampai sejauh mana memungkinkan untuk dijelajahi.

    Biasanya, mereka yang berada di putaran terluar di milonga adalah yang mungkin untuk melakukan berbagai varian gerakan secara cepat, sementara semakin posisi sang penari mendekati pusat ruangan, maka gerakannya akan semakin terbatas, karena "populasi" pasangan juga semakin padat.

    Di atas milonga lapangan hijau, Zanetti sendiri sudah pernah mencoba beberapa tempat. Sebagai fullback kanan dan kiri, ia pernah mendapatkan tempat yang luas untuk menari dengan elegan. Ia juga pernah mendekati pusat lapangan dan bermain sebagai gelandang bertahan dengan ruang yang lebih terbatas. Pemain berusia 40 tahun ini juga bahkan pernah ditempatkan sebagai seorang bek tengah.

    Ini karena tarian Zanetti, di manapun ia ditempatkan, adalah tarian yang sama. Tarian yang tenang namun menghentak, dengan kaki yang selalu tahu ke mana akan melangkah. Kehebatannya sebagai pemain memang tidak hanya sebatas menginterpretasi peran sebagai fullback, tapi, lagi-lagi, masalah membaca dan memahami ritme.



    Kemampuannya menebak ke mana sang lawan menggiring bola, atau menentukan kapan harus melangkah maju, dan kapan harus berdiam diri –jeda atau pause juga adalah satu elemen penting dalam tarian Tango—jadi pondasi bagaimana pemain yang akrab dipanggil 'Pupi' ini mampu memainkan lebih dari 1.100 pertandingan.

    Meski menyandang panggilan il trattore, atau sang traktor, pemain bernomor punggung 4 ini juga diberkahi kelincahan yang sama dengan seorang penari.

    Baik pesepakbola maupun penari Tango memang membutuhkan satu kemampuan dasar yang sama, yaitu mengambil langkah-langkah kecil secara cepat. Teknik ini digunakan untuk bisa berputar secara cepat dan memindahkan berat tubuh, seandainya saja akan bertabrakan dengan pasangan lain. Dan, Tango-nya Zanetti berarti memiliki kemampuan untuk berhenti, berakselerasi, memutar… dan untuk berakselerasi lagi, lagi, dan lagi.

    Nyaris 20 tahun ia melakukan hal yang sama, dan nyaris tak pernah ada lawan yang sanggup menghentikannya. Bahkan, sekembalinya Zanetti dari cedera yang membuatnya harus absen 6 bulan, ia langsung bisa mempraktekkan kembali aksi melangkah, memutar, dan mengkombinasikan langkah-langkah besar dan kecil.

    Kala itu, melawan Livorno, adalah lari yang dilakukan Zanetti yang jadi awal gol Nagatomo. Dengan menggunakan kelincahan kakinya, il trattore meloloskan bola dari kaki lawan di dekat garis pinggir lapangan, berakselerasi ke area tengah, dan di saat yang tepat mengambil pause untuk mengirimkan umpan.

    Tapi, bukan hanya karena kemampuannya dalam menari di atas lapangan yang membuat Pupi begitu dipuja dan dicintai suporter Inter.

    Satu hal yang patut dicermati dalam Tango adalah, tak mungkin untuk melakukannya sendirian. Entah di atas panggung yang megah, atau berada di tengah-tengah ratusan milongueros lainnya, selalu ada satu aturan yang berlaku, bahwa it takes two to Tango.



    Dalam esai "What Is Tango?", Eugene Grigoryev menjelaskan bahwa tarian ini bukanlah sekedar gerakan atau langkah-langkah kaki, tapi sebuah pelarian emosional antara dua orang. Sang lelaki dengan maskulinitas, kekuatan, dukungan, dan perlindungannya akan membuat sang perempuan merasa aman, dicintai, dan indah.

    Sang lelaki akan memimpin (to lead), sementara sang perempuan mengikuti (to follow).

    Sepasang penari Tango bisa saja adalah orang asing di kehidupan nyata. Tapi saat melakukan Tango mereka bisa jadi siapa saja yang mereka inginkan. Ketika Tango dimainkan konsep waktu seolah menguap ke udara dan persoalan tentang dunia nyata ditinggalkan di pagar luar milonga.

    Lagi-lagi adegan menarikan tango dalam film Scent of Woman bisa dijadikan ilustrasi. Letkol Frank Slade tiba-tiba saja mengajak seorang gadis yang sebelumnya tak pernah dikenalnya, namanya Donna (diperankan oleh Gabriel Anwar yang saat itu masih ranum dan ligat). Di detik-detik pertama, Donna seperti masih malu-malu memeluk Letkol Frank Slade. Ada jarak yang masih terlihat di awal tarian mereka. Tapi begitu Letkol Frank Slade berhasil melakukan putaran, jarak itu memiuh. Dan keduanya bisa menarik tango dengan serasi, sepadan dan rancak.

    Tango adalah pengalaman surealis tentang keinginan dan menginginkan. Tentang berbagi dan berekspresi meski tanpa kata-kata (Letkol Frank Slade hanya mengucapkan "thank you" di akhir tarian). Tango adalah menelanjangkan emosi lewat gerakan, dan karenanya, Tango tak mungkin dilakukan sendirian.



    Dalam suatu milonga, adalah lazim bagi sepasang penari untuk bercerai dan mencari partner baru seusai lagu habis. Mereka-mereka yang asing satu sama lain akan mencari pasangan yang seusai, dengan harapan menemukan kimia keserasian agar pelarian emosi dapat terbangun.

    Dan, dua puluh tahun lalu, ketika menjejakkan kakinya di kota Milan, Zanetti sudah menemukan pasangan Tango sejatinya, yaitu seorang wanita berbalut busana biru-hitam.

    Sebenarnya ada banyak kesempatan bagi Zanetti meninggalkan Inter. Di puncak penampilannya sebagai pemain, Inter tampil bak tim yang pesakitan. Dalam 9 musim pertamanya bersama Inter, Zanetti hanya mendapatkan satu trofi, yaitu Piala UEFA 1997/1998, meski klub telah menggelontorkan banyak uang.

    Tahun-tahun pertama Zanetti berdansa dengan Inter adalah tahun-tahun yang penuh dengan salah langkah dan pembelajaran. Tak sekali dua kali keduanya terjerembab dan hancur di bawah tekanan (seperti kakunya Donna dan Frank Slade di detik-detik pertama). Banyak klub papan atas lainnya yang menginginkan Zanetti, dan bukan sekali saja ia menolak tawaran dari Los Galacticos.

    Berkomitmen pada satu klub selama 20 tahun adalah pencapaian yang jarang bisa dilakukan pemain pada umumnya. Dan bersetia pada Inter pada saat-saat terburuknya adalah cara Zanetti untuk membuat Nerazzurri merasa aman, dicintai, dan cantik.

    Maka ber-Tango-lah Zanetti dengan Internazionale, seorang asing asal Argentina yang lewat hentakan kaki dan gestur tubuhnya memimpin tarian Inter dengan berkelas, elegan, dan indah. Lagu demi lagu, musim demi musim, dengan ratusan milongueros di sekeliling mereka. Tanpa mengenal makna waktu dan arti lelah. Ronaldo, Crespo, hingga Zlatan Ibrahimovic datang dan pergi, tapi Zanetti-lah yang tetap memimpin (to lead).

    Tapi, pada akhirnya setiap lagu akan berakhir, dan setiap milonga akan usai. Pada akhirnya, Zanetti pun mesti menarikan Tango terakhirnya di Milan. Kemarin malam, saat Inter menghadapi Lazio.

    Last Tango in Milan....

    ====

    * Penulis adalah editor Pandit Football Indonesia. Akun twitter: @vetriciawizach

    (a2s/roz)
    Kontak Informasi Detikcom
    Redaksi: redaksi[at]detik.com
    Media Partner: promosi[at]detik.com
    Iklan: sales[at]detik.com
    More About the Game