Juara Dunia Squash Kecam Media Barat: Palestina Dijajah 74 tahun!

Yanu Arifin - Sport
Senin, 14 Mar 2022 13:23 WIB
LONDON, ENGLAND - MARCH 10: Ali Farag of Egypt celebrates victory after the Second Round match of The Canary Wharf Squash Classic between Declan James and Ali Farag on Day 3 at the East Winter Garden on March 10, 2020 in London, England. (Photo by James Chance/Getty Images)
Juara dunia Squash, Ali Farag. (Foto: James Chance/Getty Images)
London -

Perang Rusia vs Ukraina membuat isu politik menyeruak di olahraga. Momentum itu membuat juara dunia squash, Ali Farag, bicara lantang soal Palestina.

Perang berkecamuk di Ukraina, yang diserang Rusia sejak akhir Februari lalu. Insiden berdarah itu membuat banyak korban jiwa berjatuhan dan banyak orang menjadi pengungsi.

Situasi itu dikecam dunia, termasuk dari arena olahraga. Berbagai cabang mengutuk apa yang dilakukan Rusia kepada Ukraina, mulai dari menyuarakan protes hingga memberi sanksi kepada banyak pegiat olahraga yang terkait dengan Rusia.

Situasi itu rupanya membuat Ali Farag, juara dunia squash asal Mesir, ikut bereaksi. Bedanya, ia membawa isu Palestina, yang kondisinya juga sedang dalam opresi Israel.

Sebuah video viral di media sosial, memperlihatkan Ali Farag berpidato soal Palestina usai menjuarai turnamen OptAsia Championship 2022 beberapa waktu lalu. Pemain squash berusia 29 tahun itu mengecam media Barat yang mengecam Rusia, namun 'amnesia' soal opresi Israel ke Palestina.

"Kita semua melihat apa yang terjadi di dunia dengan Ukraina saat ini, dan tidak ada yang senang, tidak ada yang boleh menerima pembunuhan atau penindasan apa pun," katanya, seperti dikutip Royanews.TV.

"Apa yang akan saya katakan akan membuat saya dalam masalah. Kami tidak pernah diizinkan berbicara tentang politik dalam olahraga, tetapi tiba-tiba sekarang diizinkan."

"Saya berharap sekarang orang akan melihat penindasan di mana-mana. Maksudnya, orang-orang Palestina juga melalui itu selama 74 tahun terakhir. Tetapi saya kira, karena itu tidak sesuai dengan narasi media Barat, kami tidak bisa membicarakannya."

"Tetapi sekarang kita bisa berbicara tentang Ukraina. Jadi kita bisa berbicara tentang Palestina. Jadi harap diingat. Terima kasih," kata Ali Farag.

Konflik Israel dan Palestina berlangsung sejak 1948, atau ketika warga Yahudi dan warga Arab merdeka berbagi wilayah di wilayah perbatasan Laut Mediterania dan Sungai Jordan. Konflik pecah saat Israel mendeklarasikan kemerdekannya dan pelan-pelan menduduki Yerusalem, yang menurut PBB sedianya harus menjadi wilayah internasional.

(yna/yna)