Adalah Bridgestone yang paling khawatir dengan ekstrimnya perubahan suhu jika dibanding dengan balapan siang. Pabrikan ban asal Jepang itu secara mengejutkan justru tertinggal dibanding Michelin dalam hal adaptasi dengan temperatur trek.
Casey Stoner memang sempat jadi yang tercepat di ujicoba hari pertama, namun di hari kedua Jorge Lorenzo yang gantian melesat dengan ban Michelin-nya yang dibuntuti James Toseland. Keduanya lebih cepat hampir satu detik dibanding Stoner yang cuma duduk di posisi enam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketertinggalan Bridgestone atas Michelin diakui oleh beberapa pembalap yang mengaku butuh waktu lama sebelum mendapatkan suhu yang cukup untuk ban belakangnya. Chris Vermeulen yang juga menggunakan Bridgestone malah harus melahap tiga sampai empat lap sebelum bisa menggeber Suzuki-nya dengan maksimal.
"Saya mengganti ban, dan butuh tiga sampai empat lap sebelum Anda bisa benar-benar memaksimalkannya, terutama untuk sisi kiri karena itu tak sering dipakai. Dalam kondisi normal itu adalah keunggulan Bridgestone, semoga saja kami bisa mendapatkan itu kembali pada balapan nanti," ungkap rider Australia itu di motorcyclenews.
Ban bukan satu-satunya aspek yang kena efek paling besar dengan penurunan suhu tersebut. Selain performa mesin, si pembalap juga harus bertarung dengan dinginnya suhu malam Qatar mengingat mereka melaju dengan kecepatan tinggi.
Saat ujicoba lalu beberapa pembalap mengaku kedinginan saat melaju di lintasan. James Toseland bahkan harus menggunakan masker yang dibasahi untuk menghindari kaca helm-nya dari kabut yang bisa mengganggu pandangan.
Saat menggelar balapan siang, suhu lintasan berada di kisaran 45 derajat celcius dengan tingkat kelembaban 11%. Namun saat melakukan ujicoba pekan lalu, temperatur turun menjadi 15 derajat celcius sementara kelembaban melonjak ke angka 75 persen. (din/a2s)











































