Pelatih Benfica Jose Mourinho menyebut selebrasi berlebihan penyerang Real Madrid Vinicius Junior memicu kemarahan suporter timnya. Juru taktik asal Portugal itu dinilai munafik.
Vinicius mencetak gol penentu kemenangan Madrid saat mengalahkan Benfica 1-0 dalam playoff Liga Champions di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/2/2026) dini hari WIB. Ia merayakan gol dengan menari di dekat tiang sepak pojok hingga dicibir suporter tuan rumah yang duduk dekat sana.
Vinicius lalu mendapat kartu kuning karena selebrasi itu. Situasi yang sudah panas menjadi makin membara usai winger Benfica Gianluca Prestianni diduga mengucapkan kalimat rasis kepada pemain asal Brasil tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usai laga, Mourinho menegaskan enggan berpihak pada dua pemain itu karena keduanya memberikan pengakuan berbeda, namun ia menyebut cibiran suporter hadir karena sikap tak hormat yang ditunjukkan Vinicius.
"Seharusnya itu menjadi momen paling gila dalam laga, gol luar biasa dalam laga yang bagus. Para pemain berbakat ini mampu melakukan hal-hal indah seperti itu, tetapi sayangnya dia (Vinicius) tak hanya senang mencetak gol menakjubkan itu lalu laga pun selesai. Ketika Anda mencetak gol seperti itu, Anda merayakannya dengan cara yang penuh hormat," ujar Mourinho.
"Di setiap stadion Vinicius bermain, selalu ada saja kejadian. Selalu. Maksud saya, itu adalah 50 menit pertandingan yang bagus, jutaan orang menonton di seluruh dunia, sebuah gol gila, gol yang benar-benar gila, dan kemudian pertandingan berakhir," jelasnya.
Baca juga: Seedorf: Mourinho Tak Boleh Benarkan Rasisme |
Komentar Mourinho ditanggapi negatif oleh Jamie Carragher. Eks Liverpool yang kini menjadi analis itu menilai Mourinho tak bercermin, padahal dirinya juga doyan melakukan selebrasi berlebihan.
"Setiap orang boleh merayakan gol sesuka hatinya. Apa pun alasannya, seseorang tak seharusnya mendapat perlakuan rasis. Ironis jika (komentar) itu datang dari Mourinho," ujar Carragher di CBS.
"Masih ingat dulu dia berlari di pinggir lapangan di Old Trafford (MU vs Porto). Saya ingat di final (Piala Liga Inggris 2005) melawan Liverpool ketika Chelsea mencetak gol di menit-menit akhir, ia menyuruh semua fan Liverpool diam," jelasnya.
Micah Richards, yang juga menjadi analis seperti Carragher, berpendapat serupa. "Mourinho adalah seseorang yang sangat saya kagumi sebagai pelatih," kata mantan bek Manchester City itu.
"Saya mengharapkan yang lebih baik darinya karena dia sosok berpengaruh di sepak bola. Banyak orang mendengarkan perkataannya. Terdengar munafik saat ia berbicara tentang Vinicius Jr. sementara dia sendiri merayakan golnya sesuka hati," jelas Richards.
(adp/adp)










































