Sebuah backhand Safin yang nyangkut di net membuat ia tunduk di tangan Juergen Melzer dengan skor 6-1, 4-6, 3-6, 4-6 di partai babak pertama yang digelar di Louis Armstrong Stadium, Kamis (3/9/2009) dinihari WIB.
Kekalahan menjadi terasa sangat pahit karena ini adalah turnamen Grand Slam terakhir untuk Safin. Di akhir tahun, petenis berusia 29 tahun itu berencana gantung raket.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Safin pernah punya kenangan manis dengan kompleks Flushing Meadows. Di tempat itu, ia bertahta sebagai juara tunggal putra AS Terbuka tahun 2000; kala itu ia masih berusia 20 tahun.
"Ini sudah cukup. Saya sudah meraih apa yang saya ingin raih dan saya ingin berlanjut dengan melakukan hal yang lain," tukas Safin yang masih akan bermain di lima turnamen lagi hingga akhir tahun itu.
"Saya memang sangat ingin keluar dari dunia tenis dan mencoba sesuatu yang sama sekali berbeda. Saya punya banyak waktu untuk berpikir. Ini adalah perjalanan panjang dan saya butuh waktu rehat," cetus abang Dinara Safina itu lagi.
Safin, yang juga pernah menjuarai Australia Terbuka tahun 2005 adalah petenis yang memiliki kombinasi karakter yang unik, yakni kemampuan teknis prima dengan temperamen meletup-letup.
"Ini sudah cukup," ulangnya. "Saya mengalami 12 tahun yang hebat dalam karir. Saya sudah berada di dunia ini dalam waktu yang cukup lama."
Goodbye, Safin.
(arp/mrp)











































