Firda tampil sebagai pemain nonunggulan dalam Indonesian Masters yang dihelat di GOR Graha Cakrawala, Malang, Jawa Timur mulai hari ini hingga 6 Desember. Di laga perdana, Firda akan berjumpa dengan pemain China, Chen Yufei.
Bagi Firda turnamen berhadiah total USD 120 ribu itu bukan hanya jadi ajang pencarian prestasi, tapi sekaligus menjadi ajang perpisahan dengan turnamen internasional.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lagipula sudah setahun belakangan ini, sejak Desember tahun lalu, saya terus-terusan cedera lutut. Ini bukan kambuhan dari lama, cedera baru dan justru lebih parah daripada yang dulu-dulu. Saya coba kuat-kuatin selama setahun ini tapi rasanya makin berat.
"Sejatinya bisa disembuhkan dengan operasi tapi proses pemulihan diprekirakan butuh waktu enam bulan. Saya pikir akan buang waktu. Belum tentu saat main lagi bisa maksimal." ucap dia.
Firda memang sudah cukup panjang menjalani karier sebagai pebulutangkis profesional. Dia mengoleksi medali emas SEA Games 2005 di Filipina. Tahun lalu, dia masih menjadi juara Indonesia Terbuka Grand Prix Gold dengan mengalahkan Ruselli Hartawan di partai final.
Firda tercatat sebagai pemain PB Jaya Raya di akhir tahun 1999. Dia kemudian menjadi salah satu penggawa pelatnas Cipayung mulai 2012 dan ditutup tahun 2013.
"Dengan kodnisi seperti ini, saya main maksimal saja di Malang. Saat masih sehat dan normal tak ada cedera, saya masih ebrani pasang target tapi kondisinya saat ini berbeda. Drawing juga tidak mudah he he he," ujar Firda.
(fem/nds)











































