Pelatnas pratama sejatinya tak benar-benar hilang pada PBSI era Gita Wirjawan (periode 2012-2016). Kala itu, Kabid Binpres Rexy Mainaky, tetap menampung atlet-atlet muda. Pelatnas utama dihuni 46 pemain dan 37 atlet pada level pratama.
Namun, Rexy mengubah program tersebut dengan pelatnas potensial dan prestasi. Di abilang pelatnas potensial diproyeksikan sebagai tumpuan pada Olimpiade 2020. Para pemain yang dipanggil juga pemain-pemain muda, berusia di bawah 19 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, pengurus PBSi yang baru dibentuk memilih mengembalikan nama yang biasa dikenal untuk wadah buat para pemain muda: pelatnas pratama. Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Olahraga PBSI Susi Susanty mengatakan pelatnas pratama dihidupkan lagi karena tuntutan regenerasi. Makanya, dia merekrut pemain yang masih belia.
"Alasannya karena regenerasi kita sedikit tertinggal dari negara lain. Kalau pemain di atas 21 tahun saja baru masuk masa emas. lalu berapa lama lagi kita membina? Kalau kita mengambil di bawah 17, di bawah 19, paling tidak tiga empat tahun kita akan masuk masa emas. Jadi semakin dini, otomatis masa emas itu akan semaakin panjang. Tapi kalau semakin usianya di atas, maka akan mempersempit usia emasnya," kata Susy.
"Selain itu, BWF juga sudah mengeluarkan kejuaaraan-kejuaraan Under 15, ada yang taruna juga, juniornya, kalau ketinggalan lagi, kapan sadarnya," ungkap dia lagi
Selain itu, berkaca pada pengalamannya sendiri, Susy berharap tak terjadi lagi putus generasi. Ya, Indonesia krisis tunggal putri sejak Susy pensiun.
"Saat di era saya kondisi pemain putrinya sama dengan sekarang, tidak ada (regenerasi). Saya merangkak dari bawah sekali, waktu itu saya masuk di usia 15 tahun, jadi dihidupkan, lalu mengulang dari awal lagi, sampai saya Olimpiade kira-kira waktunya enam tahun. Usia 15 tahun ke 21 tahun, jadi saya ada keinginan untuk membuat hal itu terulang lagi. Karena sebenarnya negara lain sudah membuat seperti itu," ujar dia.
Untuk mengambil atlet pratama, Susy mengatakan tidak berdasarkan kuota di masing-masing klub. Tetapi berpatokan kepada potensi dan prestasi si atlet.
"Klub ini kan membina, mengantar sampai nasional, nah di nasional ini karena klub di bawah PBSI tentunya juga keterlibatan. Jadi kita bukan melalui kuota tetapi diambil yang terbaik dan potensi si atlet itu sendiri," kata dia.
Dia memberi contoh, jika di klub Djarum hanya ada satu dua atlet yang berpotensi dan prestasi. Maka jumlah itulah yang diambil, begitu klub lainnya.
"Makanya itu, kami juga akan membuat ranking nasional per kelompok usia. Jadi untuk ke depan akan standarisasi rangking nasional, parameter masuk pelatnas, lalu poin-poin."
Selain prestasi, Susy juga akan memilih atlet pratama berdasarkan potensi. "Mungkin si A usianya masih 13-14, tapi melihat potensi mungkin belum juara, tapi daya juang, dan attitude, banyak hal lah. Jadi kami pun juga banyak sosialisasi ke klub juga,"
"Apa saja? ya mulai dari program dan kami akan lebih komunikatif dengan klub-klub. Klub ini kan pensuplai atlet muda ke pelatnas, otomatis kita harus ada kerjasama dan komunikasi yang lebih baik. Sehingga klub ini sudah membina atlet sudah setengah jadi. Kami akan menjalin satu komunikasi yang baik," ujar istri dari mantan pebulutangkis Alan Budikusuma.
(mcy/fem)











































