detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 30 Mei 2018 23:23 WIB

PBSI Diminta Lebih Cerdas Persiapkan Tunggal Putra

Mercy Raya - detikSport
Pemain tunggal putra di Piala Thomas. (Foto: Antara Foto/Puspa Perwitasari) Pemain tunggal putra di Piala Thomas. (Foto: Antara Foto/Puspa Perwitasari)
Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) diminta lebih cerdas menyiapkan sektor tunggal putra, terutama untuk Asian Games 2018. Barisan pelatih juga diminta legowo dalam menerima masukan.

Demikian hal itu disampaikan mantan pebulutangkis, Luluk Hadiyanto, dalam perbincangan dengan detikSport. Dia mengapresiasi kerja keras tim dalam kejuaraan Piala Thomas dan Piala Uber, namun dia juga menyoroti beberapa hal sebagai masukan untuk PBSI.

"Saya memberi apresiasi dulu kepada teman-teman di bulutangkis. Ganda sudah memiliki kredit poin pada Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Sementara ganda kedua 50:50 artinya masih memiliki peluang. Namun tidak begitu terjadi di sektor tunggal. Sektor ini saya rasa prestasinya belum mampu bersaing di level elit dunia, apalagi ada Kento Momota yang kembali lagi sejak disanksi selama satu tahun oleh BWF. Lalu ada Victor Axelsen yang baru sembuh dari cedera. Memang kami harus menyiapkan ekstra lebih keras dan cerdas untuk sektor tunggal," kata Luluk.

Pelatih bulutangkis di SKO Ragunan ini menjelaskan penyiapan dalam arti utamanya mampu mengevaluasi perkembangan pola main.

"Menurut saya, tim kepelatihan harus (bisa) mengevaluasi karena mereka harusnya sudah paham kelemahan dan kelebihan si atlet di level atlet dunia. Kadang kala kan beberapa pemain elit dunia pasti punya jurus dan itu harus dijaga dan pasti juga tidak mudah untuk mematikan kita," tuturnya.

Namun, bukan berarti harus atlet juga yang dipojokkan. Menurutnya, pelatih juga harus dievaluasi.



"Atlet dan pelatih kan satu tim. Jadi menurut saya ujung tombaknya pelatih dan pemain. Jadi harus mau menerima segala masukan dan kadang kala kalau bermain ada alur permainannya, ada perubahan di sini, di sini, kan juga harus mengingatkan si pemain tentunya."



Dibutuhkan Pembinaan Berjenjang

Jika dibandingkan dengan cabang olahraga lainnya, bulutangkis termasuk cabang yang memiliki banyak kesempatan untuk melakukan pembinaan berjenjang.

Namun faktanya, PBSI hanya mampu melakukan regenerasi yang baik hanya pada sektor ganda. Sementara tunggal cukup kesulitan.

"Ya saya kebetulan menangani di Ragunan dan tahun ini mewakili Indonesia di Youth Olympic Junior di Argentina 2018, yaitu Ikhsan Leonardo Rumbay. Mestinya dia bisa, karena dia pernah juara Malaysia internasional challenge, yang pemain-pemain terbaiknya di sana. Jadi dari sana, mestinya 'oh ini the rising star loh', pasti ada perhatian khusus," dia menjelaskan.

"Jadi mesti ada pembinaan khusus yang berjenjang. Jika tidak, nanti regenerasi bagaimana?"

Luluk juga berbicara soal peluang bulutangkis di Asian Games 2018. Menurutnya, ganda putra punya kesempatan besar meraih emas. Termasuk beregu putra yang dinilainya ada peluang.

"Beregu putra bukannya kemarin kalah di Piala Thomas? tapi kita kan tuan rumah. Buktinya Anthony Sinisuka Ginting bisa mengalahkan Chen Long di sini," ujar pria berusia 38 tahun ini.

"Usul saya mengevaluasi Sumber Daya Manusia (SDM) kepelatihan yang ada di pelatnas PBSI karena dengan stok terbatas ini bisa upgrade dan naik kelas. Dan legowo setiap masukan karena melatih tak mudah mesti ada talent. Benar yang diungkapkan pelatih koh Herry Iman Pierngadi. Mungkin bahannya bagus, pondasinya juga, tapi ketika memasaknya yang kurang bagus. Mohon diterjemahkan," ucap Luluk.


(mcy/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed