detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Senin, 17 Des 2018 18:17 WIB

Pemain Akrabi Cedera, Susy Keluhkan Regulasi BWF (Lagi)

Mercy Raya - detikSport
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Kepala Bidang Pembinaan Prestasi Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI), Susy Susanti, menegaskan keberatan terhadap regulasi Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) yang harus ditelan pemain. Pemain harus menanggung cedera.

Mulai tahun ini, BWF mewajibkan pebulutangkis tunggal, putra dan putri, yang berada pada peringkat 15 besar serta sepuluh besar nomor ganda, putra, putri, dan campuran, wajib mengikuti 12 turnamen terbuka. Artinya, jumlah itu tak melibatkan Piala Thomas Uber/Piala Sudirman, Asian Games, SEA Games, ataupun Commenwealth Games untuk negara-negara persemakmuran Inggris.

Sejak BWF membuat aturan baru itu, PBSI keberatan. Susy meminta agar BWF tidak memberikan beban berlebihan kepada pebulutangkis.


Susy menegaskan keberatan itu setelah pemain Indonesia cedera beruntun. Sebanyak tiga atlet mengalami cedera dimulai dari Anthony Sinisuka Ginting, Gregoria Mariska, dan Marcus Fernaldi Gideon.

Marcus mengalami cedera leher di BWF World Tour Finals 2018 di Guangzhou. Akibat cedera itu, Marcus dan Kevin Sanjaya Sukamuljo mundur di fase grup.

Sebelumnya, Gregoria Mariska Tunjung dan Anthony Sinisuka Ginting lebih dulu didera cedera. Gregoria mundur di babak perempatfinal Jerman Terbuka setelah dibekap cedera pinggang. Sementara, Anthony mengalami kram otot saat berlaga di Asian Games 2018.

"Ini memang hal yang sulit buat kami karena untuk atlet elite ada kewajiban mengikuti 12 pertandingan, jika tidak ikut maka denda USD 5 ribu. Sementara, kami juga ada multievent minimal tiga, jadi 15 turnamen. Ya ke depan kami harap BWF menang lebih bijaksana lagi jangan membebani atlet karena sponsor," kata Susy di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Senin (17/12/2018)


Susy mengatakan idealnya seorang atlet mengikuti turnamen minimal delapan sampai sembilan. Lalu tambahan multievent. Sebab, jika dipaksa bisa mempengaruhi si atlet yang mengakibatkan kelelahan otot dan sulit kosentrasi.

"Ya, saat ini kami masih memberikan masukan, keluhan juga, karena bukan hanya Indonesia, tapi semua atlet dari China, Thailand, Denmark, mereka juga mengeluhkan kondisi yang lelah capek karena ini rentetannya ke cedera," ujar Susy.

"Kalau dipaksa seperti Tai Tzu Ying dan Kento Momota, di saat tertentu bisa langsung drop. Kami sih paham karena kondisi atlet tak bisa terus di atas. Jadi, kalau dilihat hasil kemarin kita melihat lah dari serangkaian kemarin," dia menjelaskan.

Minta Bantuan Peralatan Pendukung ke Pemerintah

Sejauh ini, PBSI, kata Susy, menekan cedera pemain dengan menyiapkan tim pendukung di setiap turnamen. Mereka didampingi empat masseur dan lima fisioterapi.

"Tim pendukung butuh karena atlet bukan kelelahan secara fisik saja. Jadi harus di-maintenance atletnya. Ibarat mobil jika tak ganti oli otomatis mogok. Nah, hal sama kepada atlet jika mereka capek tak di-recovery, relaksasi, diforsir terus pasti bisa cedera," dia mengungkapkan.

"Kami sudah mengajukan ke pemerintah untuk membantu di beberapa bagian. Karena sebenarnya bukan tenaganya saja, tapi alat-alatnya juga harus lengkap," Susy menambahkan.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed