detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 06 Mar 2019 17:34 WIB

Rudy Hartono: Kapan Rekor All England-ku Terkejar?

Femi Diah - detikSport
Rudy Hartono bersama dua trofi penanda tiga gelar juara beruntun yang pertama dan kedua. (Rifkianto Nugroho/detikSport) Rudy Hartono bersama dua trofi penanda tiga gelar juara beruntun yang pertama dan kedua. (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Jakarta - Rudy Hartono masuk daftar pemain tersukses di All England. Dia tak pernah khawatir rekor miliknya dilampaui pemain masa kini.

Rudy menjadi pebulutangkis tunggal putra paling sering juara All England. Dia mengoleksi tujuh predikat jawara. Istimewanya, tujuh gelar itu diciptakan secara beruntun, sejak 1968 hingga 1974 serta satu kampiun lain diciptakan pada 1976.

Sukses itu ditandai dengan medali. Juga, dua trofi dengan ukiran namanya sebagai penanda tiga gelar juara beruntun, yang pertama dan kedua.

Kini, 43 tahun sejak Rudy menjadi juara All England kali terakhir, belum ada satu pemain pun yang sanggup menyamai rekornya. Rudy berharap ada pemain Indonesia yang mampu mengukir sukses serupa dia.


"Saya enggak pernah berpikir sampai seperti itu. Kalau saya sampai berpikir seperti itu, jangan sampai rekor saya dilewati, artinya saya orang yang egois," kata Rudy dalam wawancara dengan detikSport.

Rudy Hartono memamerkan delapan medali dari All England yang dimilikinya. Rudy Hartono memamerkan delapan medali dari All England yang dimilikinya. Foto: Rifkianto Nugroho/detikSport

"Saya ingin ada pebulutangkis tunggal lainnya yang bisa melewati saya, terutama dari Indonesia. Kalau misalnya, nanti ternyata pemain negara lain yang melewati rekor saya, tidak apa-apa, tapi kalau ada dari Indonesia itu menjadi luar biasa. Sebab, artinya, negara kita memiliki banyak bibit," kata pria asal Surabaya itu.

Dari perhitungan Rudy harapan itu tak mudah diwujudkan. Pendiri PB Jaya Raya Jakarta tersebut merinci beberapa faktor yang menyulitkan pebulutangkis masa kini untuk mengejar rekor miliknya.

"Kalau mau melewati saya, dari umur 18 atau 19 tahun, dia harus juara. Delapan tahun lho, berturut-turut, itu gampang tapi sulit. Orang itu harus setengah manusia dan setengah robot. Setengah robot dalam artian latihan tak mengenal lelah dan serius. Bisa tidak pemain itu menahan rasa pengen untuk ini itu, sebab saat ini godaannya banyak," ujar Rudy.

"Saat ini, bisa juara sekali, kontraknya akan sangat besar, bonusnya besar, hadiahnya besar. Kalau bisa tiga kali beruntun, wah! Dia harus mau enggak senang-senang. Selain itu, bukan cuma dibutuhkan idealisme pemain, namun juga sekeliling yang mendukung. Belum lagi soal usia. Periode emas pebulutangkis itu 25 tahun ke bawah, kalau juara, enggak, juara, enggak, umur keburu habis," dia menambahkan.

"Apalagi, sekarang kejuaraan banyak sekali. Si pemain itu sanggup enggak untuk mengorbankan kejuaraan lain untuk fokus ke All England dan Olimpiade saja misalnya. Ambisi untuk menjadi juara itu harus dikontrol. Selain itu, faktor zaman dengan banyaknya turnamen akan membuat rekor saya sulit untuk dikejar," Rudy menegaskan.

(fem/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com