detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 08 Mar 2019 16:43 WIB

Ini Kunci Rudy Hartono Ciptakan Rekor di All England

Femi Diah - detikSport
Rudy Hartono raja All England (Rifkianto Nugroho/detikSport) Rudy Hartono raja All England (Rifkianto Nugroho/detikSport)
Jakarta - Rudy Hartono masih menjadi pemegang rekor delapan gelar juara All England dengan tujuh di antaranya beruntun. Dia blak-blakan membuka kunci suksesnya.

Rudy meraih gelar juara All England untuk kali pertama di usia 18 tahun. Predikat kampiun di turnamen bulutangkis tertua sejagat itu diciptakan pada 1968.

Sejak itu, dia rutin menggondol gelar juara All England, mulai 1969 hingga 1974. Tanpa gelar di All England 1975, Rudy kembali menjadi pemilik mahkota pada 1976.

Rudy mengingat lagi latihan fisik, teknik, dan strategi yang dilahapnya waktu itu. Dia juga membeberkan berlatih sendirian tanpa pendampingan pelatih di tiga tahun pertamanya.

"Waktu itu, kejuaraan kurang, jadi ada banyak waktu untuk berlatih. Saya juga keterlaluan mandirinya, tanpa pelatih tiga tahun. Berangkat turnamen tanpa pelatih. Tapi, itu melatih diri saya diri saya untuk melakukan apa yang harus dilakukan," kata Rudy dalam wawancara dengan detikSport.


"Melihat lawan-lawan yang berpengalaman, pemain-pemain Eropa yang memiliki tenaga lebih besar dan kelincahan tangan yang lebih, maka saya mengasah fisik saya agar harus lebih cepat, kekuatan saya harus lebih prima, dan daya tahan harus lebih lama," tutur pria asal Surabaya itu.

Selain itu, Rudy memanfaatkan perubahan gaya bermain tunggal putra dunia. Yang awalnya dari mengunggulkan bermain indah menjadi ke pola menyerang.

"Saya memanfaatkan masa transisi ke pemain menyerang, sehingga dengan fisik unggul saya bisa lebih jago. Sementara, saya sudah lebih dulu bermain dengan mengunggulkan kecepatan, saya sudah memulai tiga tahun lebih awal. Sementara, lawan-lawan saya baru mulai setelah tiga tahun kemudian. Saya start lebih dulu, itu keuntungan," kata dia.

[Gambas:Video 20detik]

"Saya kan sudah duluan, saya sudah mendahului mereka. Saya bisa menerapkan strategi dengan bermain saya lebih cepat. Dulu itu bukan reli point, namun servis point. Dulu zaman main indah, saya tidak, saya mengedepankan kecepatannya," kata dia.

"Selain itu, saya memiliki strategi bagaimana membuat lawan out of position. Saya buat lawan ngejar bola, jangan sampai nunggu bola. Itu bisa terwujud kalau saya lebih cepat ketimbang lawan,' dia menambahkan.

"Di samping itu, strategi kemenangan. Apakah saya juara Indonesia Open? Enggak. Saya bilang cepat itu strategi, endurance kuat itu strategi, posisi bagus itu strategi, dan bola enggak nyangkut dan enggak out itu strategi," dia menegaskan.


Tak sendirian, Rudy menjaga tradisi juara All England itu. Ada PBSI yang benar-benar menjaga gengsi.

"Waktu itu, saya tidak sendirian tampil di All England. Pada waktu itu, tunggal putra Indonesia kuat sekali. Bahkan, sampai semifinal masih ada beberapa pemain Indonesia," ujar dia.


(fem/rin)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com