detiksport
Follow detikSport Linkedin share
Jumat, 26 Apr 2019 16:37 WIB

Inkonsisten, Gairah Anthony-Jonatan di Bulutangkis Dipertanyakan Rudy Hartono

Mercy Raya - detikSport
Anthony Sinisuka Ginting (Theodore Lim / AFP) Anthony Sinisuka Ginting (Theodore Lim / AFP)
Jakarta - Penampilan tunggal putra Indonesia inkonsisten, naik turun. Legenda hidup bulutangkis, Rudy Hartono, mempertanyakan gairah si pemain menjalani profesinya.

Pelatnas PBSI memiliki dua pemain tunggal putra yang diandalkan dalam setiap turnamen, yakni Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. Mereka juga ditargetkan untuk bertahan di delapan besar dunia untuk mengamankan kuota Olimpiade 2020 Tokyo.

Tapi, laju kedua pemain turun naik. Di tahun ini misalnya, prestasi tertinggi Anthony sebagai runner-up di Singapura Terbuka 2019, sebelum akhirnya di Kejuaraan Asia dia kandas sejak babak pertama.

Sementara, Jonatan mencapai semifinal Malaysia Terbuka 2019. Bahkan dia sukses lawan-lawan tangguh, termasuk unggulan pertama Kento Momota (Jepang) serta unggulan ketiga Viktor Axelsen (Denmark). Tapi, dia terhenti di semifinal dan babak pertama di Kejuaraan Asia.


"Jadi, ini semua akibat banyaknya pertandingan. Makanya, pemain ini harus bisa mengukur kemampuan dia masing-masing karena yang sedang bertanding dan berlaga itu mereka sendiri. Nah, kalau asal ikut akibatnya ini," kata Rudy saat ditemui di Gedung Jaya, Thamrin, Jumat (26/4/2019).

"(Harusnya) sasaran itu di mana? Itu yang penting. Jangan ikut saja. Mau ada 12 pertandingan satu tahun ikut. Percuma kalau naik turunnya begini drastis. Memang kalau kalah ini enggak ada akibat? Dia sendiri kecewa, belum lagi bisa cedera karena kebanyakan," dia menjelaskan.

"Pertandingan sekarang kelihatannya enak. Maksudnya, kalau kalah di sini, siapa tahu di sana menang. Jangan siapa tahu, harus tahu si pemain dan pelatih harus tahu. Jadi perlu ada kejujuran dari para pemain. Enggak semua pemain, ibarat lilin dibakar 24 jam, ngapain? Abis dibakar 24 jam. Padahal, dia bisa abis sepekan. Makanya, seorang olahragawan harus disiplin, tahu, dan punya target," dia menegaskan.

"Nah, apalagi tunggal tak segampang diomongin. Oh, pekan ini saya masuk semifinal, siapa tahu pekan depan final. Mending final, turun ke babak ketiga kalah. Jadi tolong tanya pemainnya, Anda ini mau main apa ikut-ikutan atau ada target?" ujar pemilik delapan gelar All England itu.

Rudy juga menegaskan bahwa pemain harus punya ketegasan atas apa yang menjadi targetnya dalam setiap turnamen yang diikuti. Termasuk memberikan skala prioritas dari persiapan dan kesiapannya.

"Kalau saya pemain saya tak mau sembarangan ikut. Kenapa saya bertahan 7 sampai 8 juara di All England karena saya tak sembarangan ikut pertandingan. Jadi pertandingan yang penting, itu yang saya kasih 100 persen," katanya.

Rudy tak menampik ada aturan wajib dari BWF yang mengatur setiap pemain harus mengikuti 12 pertandingan bagi pemain tunggal yang masuk 15 besar dunia dan 10 besar dunia bagi pemain ganda.

"Itu yang harus diatur. Itu kan alasan klise. Sekarang saya tanya bisa diatur? Bisa kok ada aturannya. Kalau 24 kali harus ikut? Ikut kemudian di turnamen ke-12 cedera lalu bagaimana? Makanya, ini tak semudah yang Anda pikirkan. Ini manusia loh, ototnya bukan kawat besi, tapi otot manusia. Makanya pandai-pandailah. Buktinya Kento Momota kok bisa? Jadi menurut saya kembali lagi semua itu harus punya program yang tepat," dia menjelaskan.

(mcy/fem)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed