detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 11 Sep 2019 21:09 WIB

Jika Bukan Djarum, Pemerintah Mau Kasih Duit Rp 100 M untuk Usia Dini?

Mercy Raya - detikSport
PB Djarum sudah banyak melahiirkan atlet-atlet bulutangkis top (Rengga Sancaya/detikSport) PB Djarum sudah banyak melahiirkan atlet-atlet bulutangkis top (Rengga Sancaya/detikSport)
Jakarta - PP PBSI mengatakan penyetopan audisi umum PB Djarum tak hanya merusak ekosistem bulutangkis, tapi suplai atlet berbakat juga bakal tersendat.

PB Djarum berkukuh untuk menutup audisi umum bulutangkis yang sudah berjalan sejak 2006 mulai tahun depan. Mereka kesal karena dituduh melakukan eksploitasi anak secara terselubung pada kaus peserta audisi umum bertuliskan brand perusahaan rokok, Djarum.

Keputusan tersebut ikut mempengaruhi proses pembinaan yang selama ini berjalan. Terutama di pelatnas PBSI.

Selama ini, PB Djarum merupakan salah satu klub yang aktif menyumbangkan atletnya ke Pelatnas PBSI. Bahkan, beberapa jebolan PB Djarum merupakan pemain-pemain top bulutangkis dunia, salah satunya Kevin Sanjaya Sukamuljo.

"Audisi ini memberi tiga dampak pada ekosistem bulu tangkis. Pertama, berkaitan rekrutmen pendidikan. Kedua, dengan audisi terbuka didukung publikasi, ini adalah pemasaran bulu tangkis secara nasional. Orang yang tidak tahu menjadi tahu, orang menjadi tertarik. Mungkin ada satu data nantinya, sebelum ada audisi seperti apa," kata Sekretaris Jenderal PP PBSI, Achmad Budiharto di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (11/9/2019).







"Ada juga multi player effect. Banyak orang-orang yang mendorong anaknya berlatih bulu tangkis di klub, tumbuh klub kecil di daerah. Dengan tumbuhnya itu, muncul perputaran bisnis, karena main bulutangkis butuh raket, sepatu, kock," sambungnya.

Budi, panggilan karib Achmad Budiharto, mengakui klub-klub bulutangkis di Indonesia sangat banyak. Tetapi yang punya kemampuan besar seperti PB Djarum terbatas.

"Sekarang yang mengadakan terbuka baru Djarum dan Mutiara Cardinal. Mutiara hanya di kandang sendiri dengan segala keterbatasan. Yang lain gerilya," ujarnya.

Budiharto juga menegaskan bahwa PBSI tidak dalam hal membela. Namun, faktanya memang PB Djarum yang berkontribusi banyak kepada bulutangkis Indonesia.






"PBSI tak memiliki kemampuan mendidik anak dari usia dini sampai matang. Kecuali nanti pemerintah memberikan dana Rp 100 miliar, kami bisa tangani usia dini. DPR sudah menyatakan tidak memiliki anggaran itu. Artinya kami harus memberdayakan peran swasta," kata dia.

"Swasta pun yang mampu banyak, yang bisa melebihi Djarum juga banyak, tapi mau tidak? Syaratnya ada dua, mampu dan mau. Tapi faktanya, 50 persen kontributor pemain nasional ya dari PB Djarum."

"Untuk itu, audisi harus tetap berjalan dengan format seperti itu. Sebab, ada tiga keuntungan untuk PBSI. Suplai pemain terjaga, publikasi pemasaran bulutangkis nasional terjaga. Pemutaran ekosistem di masing-masing daerah dengan hidupnya klub kecil dan banyak pemain, itu memberi keuntungan ekosistem bulu tangkis," demikian dia.




Simak Video "KPAI dan PB Djarum Berdamai, Audisi Jalan Terus!"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/mrp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com