detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Rabu, 04 Nov 2020 19:33 WIB

Tak Lolos Bursa Ketum, Ari Wibowo Singgung Potret Buruk PBSI

Mercy Raya - detikSport
Ari Wibowo Gagal maju menjadi caketum di Munas PBSI, Ari Wibowo ungkap kejelekan induk organisasi tepok bulu. (Foto: dok.Istimewa)
Jakarta -

Ari Wibowo, salah satu bakal calon ketua umum PBSI, tak lolos bursa pemilihan. Ia gagal karena jumlah dukungannya tak memenuhi syarat maju.

Sejak mendaftar menjadi bakal calon Ketum PBSI Ari sejatinya telah mengantongi 10 surat dukungan dari Pengprov sebagai syarat awal pencalonan.

Akan tetapi, dalam proses verifikasi Tim Penjaringan ditemukan surat dukungan ganda dari lima pengurus provinsi. Kelimanya ialah Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Jambi, dan Banten sendiri.

Ari menyayangkan keputusan tersebut karena ia meyakini ada upaya pihak-pihak tertentu untuk menjegalnya maju. Hal itu diutarakan Ari usai menerima surat hasil verifikasi dari Tim Penjaringan pada Rabu (4/11/2020).

"Iya (tak lolos persyaratan calon Ketum PBSI). Kalau saya melihat ada upaya penggundulan saya jadi timbul suara ganda. Terhadap surat dukungan yang saya peroleh, harusnya orang sudah tahu, ya harusnya saling menghormati," kata Ari kepada detikSport, melalui sambungan telepon.

"Akan tetapi malah diupayakan untuk diintervensi yang sangat nyata. Bahkan dari Maluku Utara, yaitu Sekumnya sendiri mengatakan kepada saya, ada yang mengatasnamanya staf BPK lah, mengintervensi lah," dia mengungkapkan.

"Kan rata-rata ketua Pengprov PBSI ini pejabat daerah, jadi menggunakan power supaya menggiring jadi satu suara. Ini yang saya sesalkan apalagi jika bicara bulutangkis, sportivitas menjadi ruh olahraga."Kejanggalan lain yang juga ia alami adalah mepetnya waktu pemberitahuan kelolosan bakal calon. Dengan demikian tidak ada peluang untuk membela diri atau menjelaskan kepada Tim Penjaringan.

"Tadi surat resminya baru saya terima pukul 13.00 WIB siang. Itu pun karena kami proaktif karena sampai tadi tak ada kabar. Kami telpon, kok alasannya tak diambil-ambil, kami enggak dikasih tahu. Itu kalau ketua timses tak telepon tak dikasih tahu. Ini protret buruk PBSI di masa sekarang kalau saya amati, ya inilah keberadaannya seperti ini," dia menjelaskan.

Meski sudah tidak bisa maju, pria berusia 45 tahun, tak akan serta merta menerima putusan calon tunggal. Sejauh ini, tinggal Agung Firman Sampurna, yang menjadi calon Ketum PBSI.

"Kami yang tersisa masih bisa mengambil sikap, bahkan para pendukung saya bilang tak ingin aklamasi, dalam artian tadi terakhir saya konfrontasi dengan Jawa Tengah, Jawa Timur, Aceh, dan Yogyakarta, menyatakan sikap mendukung saya. Karena ada upaya yang tidak sportif akan bersuara kita di Munas. Ada lah mungkin yang kami sampaikan nanti termasuk hal teknis lainnya," ujarnya.

"Ini kan sebetulnya merusak demokrasi padahal saya dari awal 10 pengprov akan sulit cari kader terbaik, bagi saya semakin bagus semakin baik. Kita beradu program, rekam jejak, tapi kalau digiring aklamasi kan kesannya kita tidak punya pilihan. Ini kan calonnya cuma dua. Jadi diberi kesempatan lah."

"Ya bangsa kita banyak dibutakan hal-hal seperti ini. Bayangkan saja penguasa selalu masih ingin berkuasa di setiap lininya. Olahraga yang harusnya dikonsentrasinya ke orang yang membidangi dijauhkan. Ini kan ironis bagi saya," dia menjelaskan.

"Ini disayangkan lah ya. Ini tidak terlepas di bulutangkis saja, mungkin cabor lain, kita sebagai anak bangsa ikut prihatin lah. Bukan saya kecewa tapi ini fakta," dia menegaskan.

(mcy/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com