detikSport
Follow detikSport Linkedin share
Selasa, 02 Feb 2021 12:23 WIB

Tim Bulutangkis Indonesia Ambyar di Thailand karena...

Mercy Raya - detikSport
Christian Hadinata adalah salah satu legenda bulutangkis Indonesia. Christian bersama Imelda Wiguna pernah mengukir tinta emas sebagai juara ganda campuran pertama All England dari Asia. Pebulutangkis Indonesia gagal memanfaatkan momentum minim prestasi di Thailand, kata Christian Hadinata. (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Legenda hidup bulutangkis Christian Hadinata menyoroti prestasi tim bulutangkis Indonesia di Bangkok, Thailand. Itu karena Tim Merah-Putih dinilai gagal memanfaatkan momentum.

Indonesia menutup tiga turnamen di Bangkok dengan hasil yang sama sekali tak memuaskan. Dari 15 gelar yang diperebutkan pada tiga turnamen, PBSI hanya mampu merebut satu gelar.

Padahal menilik skuad yang diturunkan nyaris penuh. Hanya Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang absen lantaran Kevin terpapar virus Corona menjelang persiapan keberangkatan.

Yang lebih miris lagi, Indonesia juga masih terus mengandalkan pasangan gaek Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan untuk bisa melangkah ke babak minimal semifinal dan final di ajang BWF World Tour Super 1000 tersebut. Terkecuali pasangan Greysia Polii/Apriyani yang berhasil mengambil gelar di Thailand Open edisi pertama.

Christian menilai dalam situasi keterbatasan karena pandemi virus Corona memang sangat bergantung pada kecermatan pelatih dan atletnya.

"Pelatih harus bisa memotivasi anak didiknya. Pertama karena ada batasan-batasan sehingga tidak boleh keluar (hotel), karena tidak seperti biasanya. Dari sisi atletnya juga bagaimana bisa mengatasi kebosanan mengikuti protokol kesehatan yang ketat. Ya kalau dilihat secara keseluruhan, anak-anak kita belum bisa mengatasi itu," kata Christian kepada detikSport, Selasa (2/2/2021).

Sebab, jika membandingkan dengan kondisi atlet dari negara lain, dalam situasi yang sama, tapi perfomance mereka relatif stabil. Baik dari sisi fisik maupun mentalnya. Bahkan ada yang sampai juara tiga kali turnamen, atau paling minimal dari tiga turnamen menembus minimal semifinal dan final.

"Itu menggambarkan satu perbedaan ya bagaimana anak-anak kita dalam cara mengatasi keadaan situasi masih ketinggalan dari pesaing-pesaingnya," kata Christian menjelaskan.

Kondisi ketertinggalan pebulutangkis Indonesia juga dipertegas dengan ketidakmampuan memanfaatkan kesempatan tanpa adanya negara China dan Jepang.

"Seharusnya itu menjadi kesempatan yang baik. Kita memang tidak tahu persiapan di negara masing-masing seperti apa. Tapi kita di sini dengan berjalannya Pelatnas Cipayung bisa secara kontinu, mempersiapkan diri dalam batas protokol kesehatan yang baik dan ketat, itu menguntungkan kita. Karena anak-anak masih bisa terus berlatih," ujarnya.

"Tapi pada prakteknya selama di Thailand ternyata penampilannya tidak maksimal. Bahkan, kalau dilihat grafik perfomance sebetulnya agak terbalik. Bisa dilihat dari turnamen pertama Thailand Open cukup baik, Greysia/Apriyani bisa juara. Artinya mereka sudah bisa menyesuaikan. Itu yang saya maksud terbalik."

"Kalau dibilang masih kagok, hasil turnamen pertama mungkin belum maksimal, lalu pertandingam kedua dan ketiganya baik. Tapi ini terbalik, kecuali The Daddies yang sampai final di turnamen terakhir. Itu sudah luar biasa lah. Padahal mereka sudah profesional, seharusnya anak-anak muda kita bisa tampil terdepan," pria yang karib disapa Koh Chris itu menegaskan.

Asian Leg Jadi Pelajaran Berharga

Christian lantas memberi saran agar pengalaman di Asian Leg bisa menjadi pembelajaran di turnamen mendatang. Apalagi pertandingan ke depan berlangsung di Eropa. Kondisi keterbatasan seperti sistem bubble harus bisa diantisipasi sebulan ini.

"Jadi para pelatih bersama atletnya harus bisa mempersiapkan yang terbaik. Apalagi ini jarak jauh di Eropa, semua pemain ingin juara All England, jadi harus betul-betul diantisipasi dengan sistem gelembung.

"Di Thailand jadi pengalaman terbaik, kok atlet-atlet negara lain bisa. Nah, atlet kita dengan pengalaman dan kesenioran mereka harus juga bisa mengatasi," saran peraih tiga gelar All England dan juara dunia di dua nomor (ganda putra dan ganda campuran) sekaligus pada tahun 1980 ini.

Tonton Video: Greysia Polii Pemain Pertama yang Raih 4 Gelar Juara Thailand Open

[Gambas:Video 20detik]



(mcy/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksport.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com