Tunggal Putri Taiwan Ingin Pecah Telur di Olimpiade Tokyo

Mercy Raya - Sport
Rabu, 14 Jul 2021 16:55 WIB
Taipeis Tai Tzu Ying (blue jersey) serves to Spains Carolina Marin (unseen) during their All England Open Badminton Championships womens single semi-final match in Birmingham, central England, on March 14, 2020. (Photo by Oli SCARFF / AFP)
Tai Tzu Ying ingin pecah telur di Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: AFP/Oli Scarff)
Jakarta -

Pebulutangkis putri Taiwan Tai Tzu Ying menyebut Olimpiade Tokyo bakal menjadi ajang paling menantang. Ia pun bertekad untuk dapat memenangkannya.

Tai Tzu Ying tercatat dua kali tampil di Olimpiade. Pertama kali di London 2012, kemudian Rio de Janeiro 2016. Dari keduanya, ratu bulutangkis dunia itu tak meraih satu pun medali.

Kini, ia kembali mendapatkan kesempatan ketiganya tampil di pesta olahraga terakbar tersebut. Ia berharap bisa pecah telur. "Saya merasa Olimpiade adalah ajang yang sakral dan penting. Itu sebabnya saya sangat berharap bisa meraih medali," kata Tai Tzu Ying dalam laman BWF.

"Saat saya bermain di Olimpiade London saya masih sangat muda. Jadi saya tidak terlalu banyak berpikir dan hanya mengeluarkan kemampuan saja. Pada Olimpiade berikutnya di Rio, saya banyak memberi tekanan pada sendiri. Ditambah ada cedera sehingga membuat penampilan saya menjadi tidak ideal," dia mengungkapkan.

"Untuk Olimpiade tahun ini, saya merasa telah mencapai level yang memuaskan dalam perfoma pertandingan."

Tai Tzu Ying percaya diri karena tahun ini ia berhasil mencapai tiga kali final Asian Leg di Thailand, Januari 2021. Salah satunya bahkan menjadi juara di BWF World Tour Finals 2020.

Namun, ia tak menepis kelemahannya yang belum mampu mengontrol pertandingan dan membuatnya kerap kalah dengan pemain peringkat di bawahnya menjadi catatan tersendiri.

"Tidak ada turnamen yang membuat saya puas. Saya memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan selama pertandingan," tuturnya.

"Saya pikir ini ada kaitannya dengan gaya permainan. Saya memiliki ekspetasi tinggi terhadap permainan saya dan berharap setiap tembakan bisa masuk tapi malah menyebabkan banyak kesalahan."

"Tapi jika saya mengubah gaya bermain yang lebih stabil dan aman, saya mungkin juga bisa kehilangan cara untuk memenangkan poin," tambahnya.

Kehati-hatian Tzu Ying dalam mengontrol permainannya boleh jadi akan berguna pada fase grup di Olimpiade mulai 23 Juli hingga 8 Agustus mendatang.

Ia tergabung di Grup P bersama Qi Xuefei (Prancis), Thuy Linh Nyuyen (Vietnam), dan Sabrina Jaquet (Swiss), notabene ialah pebulutangkis yang peringkatnya jauh di bawahnya.

"Ini adalah kelemahan terbesar saya. Olimpiade ini akan menjadi tantangan besar bagi saya karena tidak bisa mengontrol level permainan untuk menjadi yang terbaik dan memenangkan pertandingan," ujarnya.

Terlepas dari itu, pemain berusia 27 tahun ini menegaskan bahwa Olimpiade tahun ini akan menjadi ajang terbesar terakhirnya. "Olimpiade ini akan menjadi turnamen besar terakhir sebelum saya gantung raket. Saya belum memutuskan apakah akan terus bermain setelah Olimpiade. Saya belum ambil keputusan bulat," ujarnya.

"Saya merasa sudah tua dan mengalami banyak cedera. Saya juga memiliki banyak rasa sakit dan nyeri yang mengganggu. Memang biasanya pulih setelah beberapa saat, tapi sepertinya sekarang saya membutuhkan waktu lebih lama untuk rehabilitasi," kata Tzu Ying.



Simak Video "Olimpiade Tokyo 2020: Anthony Ginting Lolos ke Fase Gugur"
[Gambas:Video 20detik]
(mcy/cas)