ADVERTISEMENT

Tidak Ada Pengibaran Bendera Merah Putih di Indonesia Masters

Mercy Raya - Sport
Selasa, 16 Nov 2021 19:10 WIB
Kevin/Marcus
Tidak Ada Pengibaran Bendera Merah Putih di Indonesia Masters (Foto; dok PBSI)
Jakarta -

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penyelesaian Sanksi WADA Raja Sapta Oktohari memastikan Indonesia Masters tanpa ada pengibaran bendera Merah Putih.

Hal itu disampaikan Okto menyusul pertanyaan jika ada pemain Indonesia yang berhasil menjadi juara di ajang BWF World Tour Super 750 tersebut. Diketahui, Bali menjadi tuan rumah untuk tiga turnamen yaitu Indonesia Masters, Indonesia Open, dan BWF World Tour Finals.

Ajang yang dirangkum dalam tajuk Indonesia Badminton Festival 2021 itu sudah dimulai hari ini, 16 November hingga 5 Desember mendatang. Indonesia menurunkan kekuatan penuh dan catatan tiga sektor di antaranya merupakan juara bertahan yaitu ganda putri, tunggal putra, dan ganda putra.

"Enggak ada pengibaran bendera Merah Putih. Jadi perlu diketahui kalau event ini tanpa pengibaran bendera," kata Okto kepada pewarta ketika ditemui di sela-sela turnamen Indonesia Masters, Selasa (16/11/2021).

Okto sekaligus menegaskan bahwa dari sekian sanksi yang diberikan kepada Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI), pihaknya tinggal menyelesaikan masalah pengibaran bendera Merah Putih.

"WADA menjatuhkan sanksi satu tahun kepada Indonesia. Sanksinya adalah tak bisa menjadi tuan rumah event-event olahraga internasional, tidak boleh mengibarkan Merah Putih kalau menang, tidak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan Indonesia tidak boleh punya posisi di organisasi internasional. Hasil diplomasi terakhir semuanya boleh kecuali bagian pengibaran bendera. Jadi tinggal bagian itu saja yang pasti kami selesaikan," ujarnya.

Sehubungan dengan tiga tantangan utama yang harus diselesaikan yaitu komunikasi, administrasi, dan teknis. Okto menjelaskan satu persatu sudah beres.

"Masalah komunikasi sudah selesai karena semua pihak sudah terkomunikasikan dengan baik. Tadinya emailnya saja salah-salah. Jadi bagian itu sudah clear. Lalu bagian administrasi targetnya dalam satu dua pekan selesai. Tinggal masalah kecil-kecil itu pun komunikasinya langsung dengan Japan Anti Doping Agency (JADA) dan WADA (Badan Anti Doping Dunia)," ujarnya.

"Terakhir masalah teknis, ada In Competition Testing (ICT) dan Out of Competition Testing (OCT). Saat ini, ICT (Peparnas) sudah selesai 200-an sampel, tinggal OCT 122 sampel. Mestinya dengan referensi dari Peparnas bisa selesai beberapa hari, maka OCT juga bisa selesai. Jadi kalau itu tuntas November ini, maka Desember sudah ada dasarnya saya kembali komunikasi kepada WADA untuk minta mengangkat suspensinya bisa segera dilaksanakan, dan Indonesia bisa bebas," dia menjelaskan.

"Ya kami selesaikan satu-satu. Artinya ini hal pahit seperti obat. Harapannya setelah ini kita memiliki NADO (lembaga anti doping) yang independen, profesional, bertanggung jawab dan modern," Okto mengharapkan.

(mcy/aff)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT