ADVERTISEMENT

Antara Menpora, Bonus Piala Thomas, dan Kas Negara

Muhammad Robbani - Sport
Sabtu, 04 Des 2021 16:45 WIB
Indonesia players show their gold medals and hold up the trophy after winning in the Thomas Cup mens team badminton tournament in Aarhus, Denmark, Sunday Oct. 17, 2021. (Claus Fisker/Ritzau Scanpix via AP)
Antara Menpora, Bonus Piala Thomas, dan Kas Negara (AP)
Jakarta -

Menpora Zainudin Amali angkat bicara soal bonus Piala Thomas 2020. Saat ini dananya belum cair karena pemerintah berhati-hati dalam mengeluarkan uang negara.

Indonesia juara Piala Thomas usai mengalahkan tim China dengan skor 3-0 di Aarhus, Denmark, 17 Oktober lalu. Sponsor utama PBSI, BNI, kemudian memberikan bonus sebesar Rp 5 miliar pada 22 November lalu.

Tinggal pemerintah saja yang bonusnya dinanti-nanti. Tapi tak ada tanda-tanda itu yang membuat pemain misuh-misuh di media sosial.

Setelah ramai diperbincangkan, Menpora Zainudin Amali pun angkat bicara dan menjelaskan situasi yang sebenarnya terjadi. Ia sebenarnya sudah siap memberikan bonus, namun tertunda karena banyaknya event bulutangkis akhir-akhir ini.

"Jadi begini, sebenarnya kami itu merencanakan tim Thomas ini bisa diterima bapak Presiden (Joko Widodo) di Istana seperti pada saat Olimpiade dan Paralimpiade, setelah selesai semua rangkaian kegiatan mereka," kata Amali saat memberikan keterangan pers secara virtual, Sabtu (4/12/2021).

"Tapi sekarang kan masih ada kegiatan series yang dihadapi para atlet kita, sehingga itu belum bisa dilakukan. Ketika mereka tiba di Indonesia juga harus mengikuti tiga kejuaraan di Bali," ujarnya menambahkan.

"Kemudian secara kebetulan Bapak Presiden yang ada kegiatan di Bali hadir ke pelaksana bulutangkis dan bertemu dengan tim Piala Thomas. Karena Bapak Presiden sudah bertemu dengan tim yang ada di Bali, maka tentu rencana ke istana itu saya kira kan tidak mungkin bertemu lebih dari satu kali dalam satu kegiatan," katanya lagi.

Menteri asal Gorontalo menjamin bonus akan turun untuk tim Piala Thomas. Ke depannya, ia berharap tak akan ada lagi sindir-menyindir terkait apresiasi pemerintah untuk atlet berprestasi.

Untuk itu, masalah bonus pun akan dibuat aturan-aturannya. Kejuaraan mana misalnya yang dianggap layak mendapat bonus, dan kejuaraan mana yang dianggap kurang prestise.

"Kami sudah memutuskan untuk pemberian apresiasi dari pemerintah dalam bentuk bonus. Saya harus hati-hati karena ini menyangkut keuangan negara, saya tidak mau salah kalau ternyata dalam aturan kita tidak begitu cukup jelas. Kami juga berkonsultasi dengan Kementerian Keuangan kaitan dengan apresiasi ini," ucap Amali.

"Nah penyerahannya kami rencanakan kalau tidak Selasa atau hari Rabu pekan depan bersama dengan kami akan serahkan. Ini bukan seperti jajan di warung, kita mau tinggal beli, kita dapat, tentu beda. Pengelolaan uang negara itu harus hati-hati. Harus jelas betul," tuturnya.

"Saya juga tidak tahu gejala apa itu (atlet minta bonus) makanya nanti akan kami menyampaikan, menjelaskan kepada PBSI tentang ini loh kenapa kami harus hati-hati. Karena Kemenpora ini setelah 10 tahun berturut-turut tidak pernah dapat WTP (wajar tanpa pengecualian) bahkan sempat disclaimer dua tahun, sekarang kami sudah dapat WTP maka saya jaga betul, saya tidak kamu ada pengeluaran tanpa adanya aturan yang jelas," katanya menegaskan.

(aff/cas)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT