ADVERTISEMENT

Dear Taufik Hidayat, Legenda Harusnya Mendukung Bukan Menjatuhkan

Mercy Raya - Sport
Sabtu, 25 Jun 2022 12:50 WIB
Langkah Anthony Ginting di Indonesia Open 2022 terhenti di perempatfinal. Dia tumbang di tangan Viktor Axelsen.
Anthony Sinisuka Ginting (Foto: Grandyos Zafna/detikSport)
Jakarta -

Performa tunggal putra Indonesia masih jadi sorotan tajam legenda bulutangkis Taufik Hidayat. Bahkan kali ini soal mentalnya yang dinilai tidak konsisten.

Taufik Hidayat secara gamblang menyebut Anthony Ginting memiliki mental yang kadang naik turun. Meskipun secara teknik bagus.

Hal itu diungkapkan dia setelah mendapat pertanyaan dari salah satu pebulutangkis tunggal Denmark Anders Antonsen soal siapa tunggal putra bulutangkis terbaik saat ini, dalam Podcast-nya bersama Hans-Kristian Solberg Vittinghus, The Badminton Experience, baru-baru ini.

Komentar Taufik soal Ginting dkk pun bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya, ia juga menyoroti hal yang sama terkait prestasi tunggal putra, bahkan ketiadaan pelatih juga dipersoalkannya.

Taufik HidayatTaufik Hidayat dalam podcast The Badminton Experience (dok Youtube)

Pelatih tunggal putra Indonesia, Irwansyah, memberikan responsnya atas kritikan peraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena tersebut. Apa katanya?

"Sebenarnya kalau dibilang mental, jangankan Ginting semua pemain-pemain kita ini sudah sering di kejuaraan, tapi menurut saya menang kalah tergantung rezeki karena kekuatan saat ini merata," kata Irwansyah kepada detikSport, Sabtu (25/6/2022).

"Dan Ginting yang tadinya tak stabil dari permainan dari Thomas Cup kemarin, sudah mulai membaik, sudah mulai menemukan lagi dari permainan apa semua, dan dia kemarin kalah juga dari Viktor Axelsen di dua kejuaraan di Indonesia."

"Viktor Axelsen adalah satu pemain yang terbaiklah sekarang ini, yang susah dikalahkan. Jadi bukan mengenai konsistennya, karena kalau dari strategi semua sudah dikeluarkan. Pukulan-pukulan yang harusnya menyulitkan Axelsen malah out. Mati sendiri. Jadi sedikit kesalahan saja menurut saya. Tapi dari cara dia main, motivasinya, mati-matiannya di lapangan sudah semua dikeluarkan," ujarnya.

Langkah Anthony Ginting di Indonesia Open 2022 terhenti di perempatfinal. Dia tumbang di tangan Viktor Axelsen.Anthony Ginting (Foto: Grandyos Zafna/detikSport)

Akan tetapi, Irwansyah juga memahami, kendati pemainnya sudah mati-matian di lapangan, tetap tak bisa memuaskan semua pihak. Ia menerima apapun pendapat setiap orang yang tidak senang dengan hasil para pemainnya. Tapi jangan juga jadi semakin menjatuhkan mental peminnya.

"Saya mengerti mengenai taufik, ataupun siapa saja di luar sana. Itu pendapat mereka. Kita tak bisa setop mereka untuk menilai apa saja mengenai tunggal putra, pelatih, apa siapa saja. Itu pendapat mereka, ya bisa kita terima," tuturnya.

"Tapi yang saya sedikit kecewa terhadap mereka itu kurang mendukung. Kenapa? Saat pemain-pemain ini kalah, itu kan bukannya keinginan mereka. Mereka sendiri lagi down. Siapa sih yang tidak mau menang dan main di negara sendiri ? Itu saja sudah jadi satu semangat yang tinggi mau menang, tapi akhirnya kalah,"

"Maksudnya, itu saja perasaan ini (mereka) sudah kecewa, sudah down. Ditambah lagi yang luar, termasuk Taufik Hidayat, bilang seperti begitu, mengkritik. Harusnya mendukung dan men-support-lah pemain-pemain kita ini,"

"Karena mereka butuh bantuan support dari senior- senior ini dan seperti Taufik Hidayat itu salah satu idola mereka, sewaktu mereka dulu belum ada apa-apanya. Jadi kata-kata yang mendukung tu bagi pemain-pemain kita ini sangat perlu dari Taufik, dari legenda-legenda ini. Tapi itu kita tak bisa salahkan atau setop apa yang mereka pikir. Kami terima cuma sangat disayangkan," papar Irwansyah.

Dibandingkan memberi kritik yang justru semakin menjatuhkan mental pemain. Irwansyah berharap Taufik Hidayat memberikan kata-kata yang lebih membangun.

"Karena itu idola mereka. Sebab, salah satunya juga kadang-kadang mereka main bagus dan juara, dan banyak pemain muda bagus juga, belum ada kata-kata yang mengapresiasi juga," terangnya.

"Pastilah kami semua mengoreksi lagi. Kami ini sudah kerja keras, atlet-atlet ini juga kerja keras, yang mengkritik itu sebenarnya juga bekas atlet. Kecuali orang lain di luar atlet, kami mengerti karena mereka tak tahu susahnya, capeknya latihan ini, mati-matiannya, enggak pernah keluar rumah, asrama, latihan, itu saja. Masih belum pernah (ada kata) yang manis. Jonatan juara super 300 saja masih kurang levelnya. Apa salahnya cuma dipuji 'Ayo juara lagi di level 500, buat 1000', kenapa harus bilang seperti begitu (masih kurang levelnya-red)?"

"Jadi menurut saya untuk membangun lebih banyak atlet-atlet yang lebih berprestasi, legenda-legenda ini harus mendukung banget. Bukan menjatuhkan. Menurut saya ini menjatuhkan,"

"Tapi enggak apa-apa saya selalu mendukung pemain saya ini untuk memotivasi dan memberikan latihan terbaik untuk jadi pemain yang bagus. Makanya saya sebagai pelatih dukung banget, enggak takut dan tak mau menyerah," tutupnya.

(mcy/aff)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT