Saat dipanggil masuk Pelatnas PBSI pada 2025, Dejan membawa harapan tinggi. Selain ingin meningkatkan prestasi, ia juga membidik satu target besar: tampil di Olimpiade Los Angeles 2028.
Pada kenyataannya, perjalanan menuju target tersebut tidak berjalan lurus. Awalnya, Dejan dipasangkan dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti di sektor ganda campuran. Duet itu sempat menunjukkan prospek menjanjikan.
Mereka dua kali menjadi runner-up di Thailand Masters dan Taipei Open, serta ikut mengantarkan Indonesia menjadi juara Kejuaraan Bulutangkis Asia 2025. Tapi kerja sama tersebut berakhir setelah sekitar enam bulan berjalan. PBSI memutuskan mengembalikan Fadia untuk fokus di sektor ganda putri.
Harus Mulai Lagi dari Nol
Berakhirnya duet dengan Fadia membuat Dejan kembali memulai segalanya dari awal. Ia kemudian dipasangkan dengan Bernadine Anindya Wardana, pemain yang sebelumnya berada di level pratama.
Namun pasangan baru itu justru menunjukkan perkembangan cepat. Dalam waktu singkat, Dejan/Bernadine berhasil menjuarai Al Ain Masters dan India International. Mereka juga menjadi runner-up Malaysia Super 100 dan Odisha Masters.
Performa tersebut membuat ranking mereka melesat hingga kini menembus 30 besar dunia. Meski ranking terus membaik, Dejan sadar tantangan terbesar menuju Olimpiade bukan hanya datang dari luar negeri.
Persaingan di internal Indonesia juga sangat ketat. Saat ini Dejan/Bernadine masih berada di bawah tiga pasangan ganda campuran Indonesia lainnya, yakni Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu (peringkat 9 dunia), Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah (peringkat 17 dunia), dan Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil (peringkat 19 dunia).
"Untuk saya sih mungkin di momen ini, ditambah usia yang tak lagi muda, saya berharap bisa ambil (Olimpiade) musim ini. Karena untuk Olimpiade selanjutnya sulit karena sudah tak muda," kata Dejan saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung.
"Memang banyak PRnya, bukan pesimis tapi (masih) cari jalan ke olimpiade. Dan untuk ranking (sebenarnya) enggak jauh-jauh amat, masih bisa bersaing, tapi yang saya lihat kitanya dulu seperti apa. Ranking bisa berubah, tapi kalau perform konsisten itu yang akan memberi hasil," tuturnya.
Bidik Masuk 15 Besar Dunia
Untuk menjaga peluang menuju Olimpiade, Dejan memasang target masuk 15 besar dunia tahun ini. Ia berharap bisa meraih hasil maksimal di sejumlah turnamen besar, termasuk Indonesia Open 2026 yang akan berlangsung pada 2-7 Juni mendatang.
"Secara realistisnya (masih ada) tiga pasang. Jadi jangan lihat ke luar dulu, saya mau lihat, kami (Dejan/Bernadine) bisa bersaing dengan mereka atau tidak. Kalau tidak bisa, apalagi mau di luar. Tapi sejauh ini kami sudah improve," ujarnya.
Meski perjalanan di Pelatnas jauh dari kata mudah, Dejan memastikan dirinya tidak pernah menyesal mengambil keputusan tersebut. Ia justru merasa mendapatkan banyak pelajaran berharga yang membuatnya berkembang sebagai atlet maupun pribadi.
"Tidak lah, tidak (menyesal) karena ada pelajaran baru yang bisa saya ambil. Dari permainan, saya lebih matang dan konsisten, dan lebih dewasa," ujar Dejan.
"Ya, memang namanya juga hidup ya, kadang perjalanan hidup bisa ngeblend, tapi jalannya tidak tahu. Memang alasan saya ke sini juga ingin main di Olimpiade 2028, tapi prosesnya tak semulus apa yang direncanakan," ungkapnya menyoal perjalanan tak sesuai ekspektasi.
"Sampai detik ini, saya coba berusaha semaksimal mungkin, yang saya bisa. Tapi harapan dan keinginan masih ada. Bismillah saja," kata Dejan. (mcy/krs)











































