Perfoma Roma di awal musim ini memang terbilang mengecewakan setelah cuma meraih satu poin dari dua laga perdana Seri A. Namun kekalahan atas CFR Cluj yang mereka alami dinihari tadi mungkin tak bisa dimaafkan begitu saja.
Sempat unggul melalui Christian Pannuci, skuad besutan Luciano Spaletti akhirnya takluk dengan skor 1-2 setelah Juan Culio dua kali menjebol jala Doni.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tim ini mengalami ketegangan dan sulit untuk menunjukkan kualitas kami dalam kondisi itu. Masalahnya ada di fisik dan psikis. Saat hasil yang iinginkan tak datang, Anda kehilangan ketenangan dan tak bisa membuat perubahan," ungkap Spaletti usai pertandingan seperti diberitakan Channel4.
Sepanjang pertandingan Roma tak pernah benar-benar tampil meyakinkan. Di lini belakang banyak kesalahan dibuat, sementara lini depan yang mandul membuat mereka tak mampu menghindarkan diri dari kekalahan.
"Sebelumnya, meskipun mengalami kekalahan beruntun tim ini selalu mampu menciptakan kesempatan dan maju menekan. Belakangan ini hal tersebut tidak terjadi. Cluj mundur ke lapangannya sendiri, jadi sia-sia saja bermain di sayap dengan memanfatkan ruang, karena memang tak ada ruang," sambung Spaletti.
Tahun ini merupakan kali keempat Stadion Olimpico menjadi tuan rumah final Liga Champions. AS Roma pernah melaju sampai ke final saat kandangnya ditetapkan jadi venue partai puncak, meski kemudian kalah atas Liverpool di musim 1983-1984.
Dengan kekalahan ini jangankan mengulang sejarah 24 tahun silam, peluang Il Lupo melangkah ke babak kedua bisa jadi terancam lantaran mereka masih harus dua kali menghadapi Chelsea. The Blues yang merupakan kandidat terkuat di Grup A pada laga lain menggulung Bordeaux 4-0.
"Kami tahu Chelsea adalah yang terkuat di grup. Faktanya kami masih harus bekerja lebih keras, membuat pengorbanan untuk kembali bertarung di grup ini," pungkas pelatih plontos itu.
(din/arp)











































