Pires akhirnya merasakan lagi bermain di markas Arsenal, klub yang pernah ia bela selama enam tahun, dari 2000 sampai 2006. Kamis (16/4/2009) dinihari WIB, bersama Villarreal ia menantang The Gunners di leg kedua babak perempatfinal Liga Champions.
Hasilnya, seperti diketahui, tidaklah bagus buat tim tamu. Digasak tiga gol tanpa balas, klub Spanyol itu harus angkat koper dari kompetisi paling bergengsi di tanah Eropa tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Secara pribadi, hal itu tentu sangat menyenangkan dan mengilhami," ucap Pires tentang perjumpaan langsungnya dia dengan fans Arsenal di London utara itu.
"Sejujurnya, aku tidak menyangka. Meskipun aku tahu bahwa para pemain Arsenal tak pernah melupakan kolega-kolega lamanya, tetap saja hatiku tersentuh. Juga, aku akhirnya tahu bagaimana rasanya bermain di stadion ini. Aku 'kan belum pernah main di sini."
"Walaupun timku kalah, tapi momen ini akan kukenang untuk waktu yang lama. Ini sungguh emosional," tutur mantan pemain Marseille itu.
Minggu lalu Pires membeberkan kenangan saat ia memutuskan meninggalkan Arsenal. Final Liga Champions 2006 melawan Barcelona adalah latar belakang ia melakukannya. Ketika Jens Lehmann dikartu merah di menit 18, dan manajer Arsene Wenger menariknya keluar, di situlah Pires merasa dirinya dipaksa menelan kenyataan sangat pahit.
"Kalau diingat-ingat, rasanya masih sesak. Wenger tahu itu dan kami masih suka membicarakannya. Aku tak pernah setuju dengan dia bahwa itu keputusan yang tepat. Itu adalah momen terburuk dalam karirku," cetus Pires.
Ia melanjutkan, dua hari kemudian ia menghadap Wenger untuk mengatakan dua hal. Pertama, ia tak meneruskan karirnya di Arsenal dan akan memilih Villarreal. Kedua, ia bertanya kenapa waktu itu Wenger mengeluarkan dirinya dari pertandingan besar tersebut.
"Dia bilang, dia menyesal karena menarikku keluar. Dia pun merasa itu memalukan. Tapi dia tidak punya pilihan karena waktu itu Arsenal harus bermain lebih defensif."
"Tapi aku sudah tak marah lagi dengan Arsene. Kejadian itu tak bisa menghapus masa enam tahun ketika aku memenangi banyak piala, belajar dari dia, meningkat kepercayaan diri dan berjalan baik dengan timnas Prancis," sambungnya.
Maka, ketika Arsenal kini melenggang ke babak semifinal, hanya satu yang ada di benak Pires: berharap bekas timnya itu meraih sukses besar.
"Arsenal sebuah tim besar yang punya banyak potensi, kecepatan, kesegaran, dan anak-anak muda. Seperti halnya Wenger, aku berharap bisa melihat mereka masuk final dan memenangi Liga Champions ini."
"Hari ini, aku tetap fans tim ini, terutama karena mereka memainkan sepakbola yang aku sukai," pungkas Pires.
(a2s/krs)











































