Akhir pekan lalu, suporter Juventus membuat hinaan rasis kepada penyerang Inter Milan, Mario Balotelli. Akibatnya, Juve dihukum harus bermain tanpa suporternya di pertandingan mendatang.
Italia menjadi negara kesekian yang terbelit kasus rasisme setelah sebelumnya Spanyol sering dapat sorotan soal ini. UEFA dengan tegas meminta pertandingan dihentikan bila ada kasus serupa terulang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika masih terus berlanjut, maka pertandingan akan dihentikan. Dibutuhkan keberanian ketika terjadi rasisme. Itulah misi UEFA," imbuh mantan pemain yang ironisnya pernah memperkuat Juventus itu.
Sebelum kasus Juventus menyeruak ke publik dan mendapat perhatian besar, kasus-kasus rasisme lainnya di Italia biasanya dirampungkan dengan hukuman berupa denda kepada klub yang bersalah.
"Ini adalah situasi yang sulit bagi Federasi Sepakbola Italia. Ini tanggungjawab mereka," kata Platini.
Federasi Sepakbola Italia (FIGC) melalui Presidennya, Giancarlo Abete, langsung bereaksi cepat atas hal ini. Mereka menjanjikan perubahan aturan yang membuat sebuah pertandingan bisa dihentikan bila ada tindakan rasis.
"Sistem di Italia sudah memberikan wewenang kepada pihak terkait untuk menghentikan pertandingan bisa ada kasus pemasangan spanduk yang berbau diskriminasi ras. Kami akan memperkuatnya," kata Abete.
(arp/a2s)











































