Inter adalah masa lalu Ibra. Selama tiga tahun penyerang berkebangsaan Swedia itu mengenakan seragam biru-hitam La Beneamata dan menyumbangkan tiga titel juara Liga Italia.
Meski mendominasi sepakbola Italia, ada yang kurang dari pencapaian Inter di mata Ibra: Nerazzurri tak berdaya di Eropa. Karena itulah, di awal musim ini Ibra dilego ke Barcelona untuk dibarter dengan Samuel Eto'o dan sejumlah uang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil 0-0 menjadi kesimpulan akhir pertarungan dua raksasa itu semalam. Sebuah pertandingan yang lebih banyak memunculkan pertanyaan ketimbang jawaban. Termasuk tentang performa Ibra.
Ada satu momen di mana Ibra bisa saja membungkam seisi Giuseppe Meazza yang banyak mencemoohnya. Tetapi kans untuk mencetak gol itu terbuang dan Ibra harus menelan kata-katanya sendiri bahwa ia ingin membawa klub barunya untuk mempermalukan Inter.
Sebuah sikap yang mengundang kritik banyak pihak, seperti mantan rekan setimnya dan tak terkecuali para pendukung Inter yang berubah dari pemuja menjadi pembencinya.
Mungkin Ibra tertekan dengan sambutan tak ramah para tifosi Inter, meski striker berusia 27 tahun itu menepisnya.
"Beberapa memang menyiuli. Itu normal saat Anda kehilangan seorang pemain yang tidak Anda inginkan untuk pergi," ujar Ibra di Reuters. "Dengan sedikit keberuntungan, saya bisa saja mencetak gol."
Ibra mengklaim bahwa Barcelona bermain lebih baik ketimbang Inter. Tapi Ibra juga tahu kalau bermain baik tetapi tidak mencetak gol dan menang tidak berarti apa-apa.
(arp/key)











































