Irak Terancam Dicekal FIFA

Irak Terancam Dicekal FIFA

- Sepakbola
Rabu, 18 Nov 2009 01:04 WIB
Jakarta - Untuk kali kedua dalam dua tahun, Irak terancam dapat sanksi pencekalan dari FIFA. Otoritas sepakbola dunia itu memutuskan mengambil langkah tegas karena adanya campur tangan pemerintah.

Adalah pembubaran dewan pengurus Asosiasi Sepakbola Irak (IFA) oleh Komite Olimpiade negara tersebut yang membuat FIFA berencana mengambil tindakan tegas.

"FIFA telah mempelajari bahwa Komite Olimpiade Irak sudah mengumumkan pembubaran dewan pengurus dari Asosiasi Sepakbola Irak (IFA). Keputusan semacam itu tidak bisa diterima oleh FIFA. Hal ini jelas bertolak belakang dengan statuta IFA dan FIFA," demikian pernyataan resmi FIFA seperti dikutip dari Reuters.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Komite Olimpiade Irak secara resmi mengumumkan pembubaran dewan pengurus IFA pada Senin (16/11/2009) kemarin. Alasan utama pembubaran tersebut adalah karena adanya ketidakberesan dalam hal administratif serta proses pemilihan pengurus yang selalu ditunda-tunda.

Padahal hal tersebut bertentangan dengan regulasi FIFA di mana mereka memang melindungi semua asosiasi sepakbola yang berada di bawah naungannya dari intervensi pemerintah. Atas masalah tersebut di atas, FIFA memberikan waktu pada Irak selama 72 jam atau kasus tersebut akan dilanjutkan pada Emergency Committee, yang berpotensi memunculkan sanksi buat juara Piala Asia 2007 itu.

Meski dapat ancaman serius, Komite Olimpiade Irak ternyata bergeming dengan keputusannya. Mereka dengan tegas menyatakan tak akan membatalkan putusan yang sudah dibuat.

"Komite Olimpiade Irak tak akan mengubah keputusannya, meski akan ada konsekuensi yang datang" ungkap salah seorang anggota Komite Olimpiade, Samir Mussawi.

Pada Mei 2008 Irak sempat dicekal dari sepakbola internasional setelah pemerintah negara tersebut membubarkan Komite Olimpiadenya. Namun sanksi tersebut kemudian diangkat setelah Pemerintah Irak mengirim surat pada FIFA yang memastikan kalau IFA sama sekali tak terkait dengan pembubaran Komite Olimpiade tersebut.

(din/nar)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads