Semifinalis Liga Champions
Skenario Pengganti Final Ideal
Kamis, 08 Apr 2004 09:43 WIB
Jakarta - Maaf, final Liga Champions musim ini bukanlah Real Madrid versus AC Milan. Bukan final ideal kata orang. Setidaknya demikian menurut bursa taruhan sebelum kedua tim elit dunia itu bertumbangan di babak perempatfinal.Semifinalis musim ini, yang berarti satu di antaranya bakal jadi juara, punya reputasi kurang harum di kancah Eropa. Porto baru sekali juara Eropa, itupun 17 tahun silam. Monaco memang sebelumnya pernah dua kali masuk semifinal, tapi tak pernah berlaga di partai puncak. Deportivo La Coruna dan Chelsea? Bahkan baru kali ini mereka menembus babak empat besar.Sebelumnya para unggulan Liga Champions selalu mengarah pada Real, Milan, Manchester United, Bayern Munich, Juventus atau Arsenal. Chelsea, meskipun musim ini sudah dihuni bintang-bintang dunia, masih dipandang sebelah mata karena perjalanan mereka kurang mengesankan.Akan tetapi The Blues dan juga ketiga klub lainnya itu telah memperlihatkan bahwa sebuah kondisi ideal bisa menjadi tidak ideal lagi jika ada sesuatu yang lebih ideal. Biar tidak pusing, tengok performa mereka terutama di babak perempatfinal.ChelseaSemestinya mereka dijagokan sejak awal musim demi melihat kemilau nama-nama beken yang menghuni skuad Claudio Ranieri ini. Namun permainan Chelsea tidak memberikan kesan positif, sekalipun mereka memetik kemenangan. Sepertinya mereka memakai prinsip βbiar main garing, yang penting menangβ, apalagi waktu melawan Stuttgart di babak 16 besar.Baru di pertandingan terakhir John Terry dkk menunjukkan kelasnya. Arsenal, rival se-Inggris yang tak pernah mereka kalahkan dalam 17 pertemuan terakhir, mereka gasak 2-1 lewat permainan terbuka. Kali itu baru tampak pola permainan The Blues. Sejak babak penyisihan grup anak-anak Ranieri sudah beraksi 12 kali dengan hasil 8 kali menang, seri 3, dan hanya kalah sekali dari Besiktas. Well, Chelsea memang tidak luar biasa, tapi mereka tetap punya daya jual untuk tampil di final, yakni kemewahan materi pemain.PortoTim Portugal ini sedang menapak ke jenjang yang lebih atas. Agaknya sukses menjuarai Piala UEFA tahun lalu telah menaikkan kepercayaan Vitor Baia cs. Setelah ditekuk Real Madrid di game kedua di penyisihan grup, tim asuhan Jose Mourinho ini tak pernah lagi mencicipi kekalahan. Mourinho berhasil menanamkan βnaluriβ membunuh pada anak-anaknya. Mereka merupakan salah satu tim yang konsisten menerapkan sistem sepakbola menyerang. Hasil terbaik didapat di babak 16 besar, ketika dengan gagah berani mereka menaklukkan juara Inggris Manchester United. Sikap serupa ditunjukkan dinihari tadi melawan Lyon. Meski unggul 2-0 di leg pertama dan mesti bermain di kandang lawan, Porto tidak terkesan cenderung ingin mengamankan tabungannya itu. Deco masih menjadi hantu di wilayah pertahanan lawan. Hasilnya, mereka dua kali memimpin skor walaupun di akhirnya seri 2-2.Deportivo La CorunaKelemahan tim ini adalah konsistensi. Jika mood sedang tidak bagus, permainan mereka kerap terlihat menjengkelkan. Entah bagaimana caranya tim papan atas Spanyol itu bisa dipermak 3-8 oleh Monaco di penyisihan Grup C. Akhir minggu lalu mereka juga tak mampu mempertahankan keunggulan 2-0 sebelum akhirnya disamakan 2-2 oleh Real Betis di La Liga.Sebaliknya, jika mood itu datang, betapa sulitnya menghentikan aksi Albert Luque dan teman-temannya. MU, Juventus, atau Bayern Munich pernah merasakan hal itu. Apalagi Milan, yang baru saja dipermak habis-habisan dinihari tadi. Juara bertahan itu dibuatnya tak bisa main bola, sementara Paolo Maldini dan Alessandro Nesta disulap jadi terlihat bodoh oleh Walter Pandiani, Juan Carlos Valeron, dan Luque.MonacoAngkat topi buat Didier Deschamps yang bisa menularkan pengalaman fantastisnya sebagai pemain kepada yunior-yuniornya. Di tangan mantan kapten Les Bleus ini Monaco menjadi sebuah tim yang solid, yang mengutamakan kebersamaan, sekaligus memaksimalkan kebintangan beberapa pilarnya macam Shabani Nonda, Ludovic Giuly, Dado Prso dan Fernando Morientes.Rekor kemenangan 8-3 atas Deportivo sungguh membanggakan, tapi perfoma saat meladeni Real Madrid sama dengan acungan dua jempol. Hasil mencuri dua gol di Santiago Bernabeu mereka tambahkan dengan tiga gol di kandang sendiri. Real Madrid, yang tampaknya terlalu yakin menang, mereka bombardir dari segala penjuru hingga akhirnya angkat tangan pertanda menyerah.Undian sebelumnya telah memastikan Chelsea berduel dengan Monaco dan Deportivo bertarung melawan Porto di semifinal. Rasanya tidak mudah memprediksi siapa yang bakal menang dan berhak tampil di final. Tapi siapapun itu, secara meyakinkan mereka telah menjungkalkan tim-tim yang katanya ideal. Sekarang, mendingan Anda kutak-katik mana dengan mana yang bakal menjadi pengganti final ideal itu.Baca juga:Satu Merah di Antara Tiga Biru (a2s/)











































