Memikirkan Keamanan Afsel Pasca Kasus Togo

- Sepakbola
Sabtu, 09 Jan 2010 13:42 WIB
Jakarta - Penembakan yang menimpa bus tim Togo sehari sebelum berlangsungnya Piala Afrika 2010 turut memengaruhi persiapan Piala Dunia 2010. Bagaimana jaminan keamanan Afrika Selatan?

Kasus penembakan terhadap tim Togo terjadi saat bus tersebut tengah melakukan perjalanan dari Republik Demokratik Kongo ke Angola, tuan rumah Piala Afrika 2010.

Akibat penembakan tersebut, sang supir bus dinyatakan tewas, sementara ada beberapa pemain yang cedera. Tim Togo pun tengah mempertimbangkan untuk mundur saja dari Angola 2010.

Peristiwa mengerikan itu tentu saja tak lepas dari situasi keamanan yang ada di Angola dan juga Afrika umumnya. Sebagai gambaran, wilayah Cabinda di mana kasus itu terjadi tengah bergolak akibat adanya pergerakan separatis bersenjata.

Keamanan memang menjadi masalah utama di Afrika. Berbagai konflik bersenjata dengan macam-maca latar belakang --mulai dari motif ekonomi, ras sampai agama-- masih membayangi Benua Hitam.

Kasus Togo membuat banyak mata kini mengarah ke Afsel sebagai calon tuan rumah Piala Dunia 2010. Dengan perhelatan Piala Dunia yang kurang dari enam bulan lagi, keraguan tentang keamanan harus bisa dijawab oleh negeri di ujung selatan benua itu.

Dalam sejarahnya, Afrika Selatan juga banyak mengecap banyak peristiwa pahit terkait konflik. Segregasi rasial antara kulit hitam dan putih yang pernah mewujud dalam bentuk politik apartheid adalah salah satunya.

Sebagai gambaran, sebuah survey yang digelar Badan PBB untuk Masalah Narkotika dan Kejahatan (UNODC) di periode 1998-2000 menyatakan bahwa Afsel adalah negara ranking dua kasus penyerangan dan pembunuhan (dengan berbagai cara) secara per kapita dan nomor satu dalam kasus pemerkosaan per kapita.

Memang, survey itu dilakukan 10 tahun lalu, saat di mana Afsel masih belum terlalu bersiap diri dalam menghelat Piala Dunia. Namun tetap saja statistik itu menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan besar apakah perhelatan Piala Dunia bakal berlangsung lancar tanpa ancaman keamanan.

Afsel bertindak cepat dengan mengirim Kepala Polisi Nasional Mbheki Hamilton Celle ke Angola untuk mempelajari kasus yang baru saja terjadi.

"Saya berada di Angola sebagai Kepala Polisi Afsel, selain juga sebagai bentuk hubungan antara kedua organisasi (panitia PD dan panitia Piala Afrika). Saya datang untuk mempelajari upaya pencegahan yang diambil panitia Piala Afrika," tukas Celle.

Setelah kasus yang menimpa Togo, Afrika Selatan bagai orang yang tak makan nangka tapi terkena pulutnya. Yang bisa mereka lakukan kini adalah merebut kepercayaan dunia bahwa mereka sanggup menggelar Piala Dunia yang aman.

Foto:
Situasi jalanan di Afrika Selatan, sekitar 8 bulan lalu, seusai digelarnya pemilu Presiden. (Reuters)


(arp/arp)