Secara tradisi Piala Dunia selalu digelar pada musim panas atau pertengahan tahun. Tapi usulan agar menggelarnya pada awal tahun lahir usai Qatar terpilih jadi tuan rumah edisi 2022. Ide muncul karena tingginya suhu musim panas di Qatar.
Presiden Federasi Sepakbola Asia (AFC) Mohamed Bin Hammam ikut mendukung ide tersebut. Menurut pria yang juga berasal dari Qatar tersebut, gelaran di bulan Januari menghindarkan pemain dari kelelahan usai membela klubnya masing-masing semusim penuh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini juga tercermin dari gelaran terakhir pada Piala Dunia 2010 lalu di Afrika Selatan. Saat itu sejumlah pemain terbaik dunia tampil di bawah perform terbaiknya dan banyak pelatih yang menilainya sebagai dampak dari panjangnya musim kompetisi bersama klub.
"Pada bulan Juni banyak pemain yang sudah bosan dengan sepakbola, sehingga FIFA lalu memunculkan ide untuk menyelesaikan musim dan liga lebih cepat dua pekan."
"Banyak orang akan berpikir kalau kami menggelar Piala Dunia di tengah musim saat para pemain masih bugar, banyak yang akan bisa tampil cemerlang, mendapat hasil lebih baik, sehingga akan lebih bagus untuk para pemain, para pelatih dan juga Piala Dunia," nilai Hammam.
Meski begitu, Hammam juga menegaskan kalau negaranya akan tetap siap untuk menggelar Piala Dunia pada musim panas seperti biasanya.
(krs/rin)











































