‘Eropa Agar Kirim Pemain ke Asia’

‘Eropa Agar Kirim Pemain ke Asia’

- Sepakbola
Senin, 19 Jul 2004 08:15 WIB
Jakarta - Presiden FIFA Sepp Blatter mengatakan sudah saatnya migrasi pemain diarahkan ke Asia. Daripada menumpuk pemain yang akhirnya cuma duduk di kursi cadangan, klub-klub Eropa disarankan mengirim mereka ke Asia.Demikian dikatakan Blatter sehubungan dengan digelarnya turnamen Piala Asia 2004 di Cina. Menurutnya, Eropa bisa memainkan peran kunci untuk membantu mempercepat perkembangan sepakbola Asia, jika klub-klubnya melepaskan pemain-pemain yang berada di tim cadangan.Dalam wawancaranya dengan AFP, Minggu (18/7/2004), Blatter mengatakan, inilah saatnya membalikkan tren transfer pemain dari Eropa ke Asia karena pangsa pasar di kawasan ini cukup menjanjikan.“Saat ini semua terfokus di Eropa, semua orang ingin main di sana,” kata Blatter. “Saya bisa mengerti kesulitan di Afrika di mana terdapat perbedaan kekuataan ekonomi. Tapi di sini, di Asia Timur macam Korea, Jepang dan Cina, ada banyak uang yang tersedia sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran pemain.” “Saya tidak hanya bicara tentang pemain yang akan mengakhiri karirnya, tapi juga mereka yang masih muda dan establish. Ambil AC Milan sebagai contoh. Mereka punya 45 pemain tapi yang dipakai per musim hanya sekitar 30. Saya tidak habis pikir ada pemain yang senang duduk di kursi cadangan dan menerima gaji hanya dengan bermain empat atau lima kali setahun.”Besarnya pengaruh sepakbola Eropa terhadap Asia bisa dilihat dari tren yang ada di benua ras kuning tersebut. Blatter kerap melihat anak-anak muda di Cina mengenakan replika kaos pemain bola idolanya, seperti striker Barcelona asal Argentina, Javier Saviola.“Bayangkan jika Saviola masih di Asia! Orang-orang Asia pasti berbahagia bisa melihat pemain-pemain macam dia berlaga di liga mereka secara reguler, tidak cuma hadir dalam rangkaian tur yang harganya jutaan dolar,” sambung Blatter.Akan tetapi Blatter sadar FIFA tidak mungkin menyuruh klub-klub Eropa melakukan hal demikian karena menyangkut sistem ekonomi yang tidak bisa dicampuri oleh badan sepakbola dunia itu. “Ini soal solidaritas. Tapi solidaritas dan komersial tidak selalu pergi beriringan.”Blatter juga menantang Asia untuk berpretasi tinggi di kancah internasional. Ia mengaku salut atas kiprah Korea dan Jepang di Piala Dunia 2002 lalu, tapi akan lebih salut apabila mereka mampu melakukan hal serupa tidak di kandangnya sendiri. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads