Inggris memang demikian. Prestasi mereka di turnamen internasional seringkali mengecewakan. Setelah melaju ke semifinal Piala Eropa 1996, mereka belum pernah lagi mencapai catatan serupa atau melebihi catatan tersebut. Di dua turnamen besar terakhir, Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012, mereka tersingkir di babak 16 besar dan perempatfinal.
Khusus untuk Piala Dunia, prestasi terbaik The Three Lions dalam beberapa perhelatan terakhir adalah menjadi semifinalis Piala Dunia 1990 dan akhirnya duduk sebagai peringkat keempat. Itu sudah terjadi hampir 23 tahun lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari sudut pandang pribadi, dan ego pribadi, lolos adalah sebuah keharusan. Itu jelas harus," ujar Gerrard kepada Mirror.
"Di satu sisi, ini adalah soal berkompetisi dengan tim-tim terbaik dan individu-individu terbaik di dunia. Di sisi lainnya, ini adalah soal menjadi pahlawan dalam balutan kostum Inggris, yang mana tidak pernah saya alami sebelumnya."
"Tentu saja saya memimpikan menjadi pahlawan seperti itu. Semua orang pasti pernah demikian," ucap Gerrard.
Kapten Liverpool ini juga terang-terangan mengakui bahwa performanya di turnamen besar seperti Piala Dunia tidak memuaskan. Berbeda halnya dengan mereka yang menjadi anggota skuat Piala Dunia 1990.
"Saya tidak merasa saya sudah bermain bagus di Piala Dunia. Saya pikir, tidak seorang pun pemain Inggris di generasi ini merasa puas juga."
"Jika Anda berbicara dengan skuat yang kembali setelah Piala Dunia 1990, mereka bisa puas karena betapa nyarisnya mereka menjadi juara. Mereka tidak menyesal karena mereka sudah berusaha semampu mereka."
"Tapi, saya selalu mengakhiri turnamen dengan rasa menyesal karena kami tidak pernah melangkah jauh, tidak pernah sampai ke babak empat besar atau dua besar," ucapnya.
Inggris akan melakoni dua laga kualifikasi Piala Dunia 2014 dalam beberapa hari ke depan. Setelah menghadapi San Marino (22/3), mereka akan menghadapi Montenegro (26/3). Inggris saat ini berada di urutan dua klasemen Grup H dengan nilai 8, tertinggal dua angka di belakang Montenegro. Dari empat kali bermain, tim besutan Roy Hodgson itu menang dua kali dan seri dua kali.
(roz/din)











































