Menceploskan bola ke dalam gawang tim lawan dari tendangan penalti adalah sebuah keharusan buat setiap algojo terpilih. Melakukannya dengan dengan gaya, itu perlu keahlian dan keberanian.
Berikut ini lima tendanganpenalti "ajaib" yang tak sekadar menghasilkan gol, tapi juga mengundang decak kagum yang melihatnya, karena proses yang unik bahkan "rumit" -- seperti dirangkum dari ftbpro.com:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Ezequiel Calvente (2010)
|
|
Bagaimana ia mengeksekusi tendangan penalti tersebut? Ia mengambil posisi tubuh akan menendang dengan kaki kanan. Beberapa saat sebelum kaki kanannya menendang, tahu-tahu ia menggunakan kaki kiri untuk menyepak bola. Kiper lawan terperdaya.
2. Luis Boa Marte (2013)
|
|
Saat mengeksekusi penalti, gelandang serang yang cukup lama malang melintang di Liga Inggris itu mengayunkan kaki kirinya di depan bola di titik putih. Namun ayunan pertamanya disengaja tidak mengenai bola, sedangkan kiper terlanjur bergerak. Sepersekian detik kemudian barulah dia menyepak bola dengan kaki kirinya itu. Sang kiper seperti mau memprotes eksekusi yang menipu itu, tapi ia mengurungkannya karena mungkin itu hanya pertandingan eksebisi mencari amal.
3. Djibril Cisse (2011)
|
|
Boleh jadi, kalaupun kiper bisa membaca arah tembakan dan mencoba menghalaunya, belum tentu dia sanggup menahan laju bola, saking derasnya. Penalti bertenaga itu dibuat Cisse saat masih bermain untuk klub Yunani, Panathinaikos.
4. Joonas Jokinen (2011)
|
|
Bagaimana tidak, ia mengeksekusi tendangan penalti dengan cara yang mungkin takkan pernah disangka-sangka oleh semua orang. Mengambil ancang-ancang biasa, ia tahu-tahu berjungkir balik di udara, setelah mengayunkan kakinya menyepak bola. Penalti sambil salto!
Jokinen pernah menjadi pemain timnas junior Finlandia, tapi kariernya mandek. Saat membuat sensasi itu ia bermain untuk klub amatir Swiss, FC Baar, saat menghadapi FC Sempach.
5. Antonin Panenka (1976)
|
|
Panenka mencungkil bola ke arah tengah gawang, dengan asumsi bahwa setiap kiper pasti akan melemparkan tubuhnya ke samping, kiri ataupun kanan. Gol penalti seperti itu akan pula terlihat mempermalukan si kiper. Sebaliknya, jika tak berhasil, si algojo seperti mempermalukan dirinya sendiri.
Sensasi Panenka itu tercipta di pertandingan Piala Eropa 1976, saat timnas negaranya, Cekoslowakia, menghadapi Jerman Barat di partai final. Gol tersebut menyudahi drama adu penalti kedua kesebelasan. Cekoslowakia menang 5-3, dan meraih satu-satunya piala yang hingga kini pernah mereka menangi.
Halaman 2 dari 6











































