Kuyt, meski namanya tak sebesar Arjen Robben, Wesley Sneijder, atau Robin van Persie yang merupakan pemain seangkatannya, tapi tetap dianggap sebagai unsung hero berkat kontribusinya untuk timnas.
Sebagai pesepakbola, Kuyt memang tidak istimewa namun work rate yang tinggi membuatnya dipuji serta semangat tanpa menyerahnya. Oleh karenanya dia pun dijuluki Mr Duracell - merek baterai yang mengusung tagline 'tahan lama' -- saat masih memperkuat Liverpool.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya masih ingin berkontribusi di lapangan tapi merasa pelatih memang tak tahu harus menempatkan saya di aman. Itulah mengapa saya pikir pensiun adalah jalan terbaik," ujar Kuyt kepada De Telegraaf seperti dikutip Reuters.
"Paling mudah memang pensiun setelah Anda melalui Piala Dunia dengan sukses tapi saya masih merasa fit. Dan pelatih pun ingin mempertahankan saya. Itulah mengapa saya terus lanjut tapi dengan syarat saya mendapatkan peran yang saya suka," sambungnya.
"Tapi laga melawan Republik Ceko membukakan mata saya bahwa pemain muda lebih dipilih untuk jadi pemain depan. Saya pun hanya jadi peran pendukung. Saya harus jujur: Saya sudah 34 tahun dan tak punya tenaga lagi hanya untuk duduk di bench selama 1-2 tahun lagi serta jarang bermain."
Kuyt memainkan debutnya bersama Belanda melawan Liechtenstein di tahun 2004 dan mencetak 24 gol serta bermain di lima turnamen besar. Kuyt terakhir kali bermain adalah saat melawan Italia bulan lalu.
(mrp/krs)











































