Partai sarat muatan politis antara Serbia lawan Albania dalam kualifikasi Piala Eropa 2016, (15/10/2014) dinihari WIB, tak tuntas dilangsungkan selama 2x45 menit akibat adanya kericuhan yang diawali oleh munculnya sebuah drone yang terbang di atas lapangan permainan Partizan Stadium.
Yang jadi masalah, drone yang disinyalir dikendalikan suporter Albania dari luar stadion--laga digelar tanpa suporter tandang--itu turut mengerek sebuah bendera Albania. Stadion yang berisikan suporter tuan rumah langsung heboh sampai akhirnya salah satu pemain Serbia, Stefan Mitrovic, merenggut bendera tersebut dan memicu reaksi sengit dari para pemain Albania. Kericuhan pun pecah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya melihat para pemain tim saya diserang, juga di dalam terowongan, dan bahkan dari para stewards. Kami tidak dalam kondisi fisik maupun psikologis untuk lanjut bermain," kata kapten Albania Lorik Cana kepada sebuah stasiun televisi negaranya dan dikutip Reuters.
Sementara kapten Serbia Branislav Ivanovic menyatakan bahwa, "Apa yang terjadi adalah sesuatu yang saat ini tidak bisa kami pahami. Atas nama tim, yang bisa saya katakan adalah bahwa kami sebenarnya ingin lanjut dan kami sudah melindungi para pemain Albania di setiap langkah menuju terowongan (setelah kerusuhan pecah)."
"Setelah bicara kepada ofisial tim Albania mengatakan mereka tidak siap secara fisik dan mental untuk lanjut dan mereka kini akan memutuskan bagaimana akhirnya pertandingan ini. Kami cuma bisa menyesali bahwa di laga ini sepakbola malah jadi nomor kesekian, tapi saat ini masih sulit untuk menyimpulkan apa-apa atau membuat komentar apapun," beber pemain asal klub Chelsea itu.
(krs/fem)











































