Karier Para 'Bocah Emas': Ada yang Layu Sebelum Berkembang

Karier Para 'Bocah Emas': Ada yang Layu Sebelum Berkembang

- Sepakbola
Kamis, 05 Feb 2015 12:57 WIB
Karier Para Bocah Emas: Ada yang Layu Sebelum Berkembang
AFP/STR
Jakarta -

Sejatinya Golden Boy Award adalah penanda kesuksesan awal seorang pesepakbola muda untuk meniti kariernya di Eropa. Tapi pada kenyataannya 'Sang Bocah Emas' tak selamanya punya ujung cerita yang manis.

Adalah harian Italia, Tuttosport, yang memprakarsai ide penghargaan ini pada tahun 2003, untuk memberi award bagi pesepakbola berusia 21 tahun atau di bawahnya yang bersinar selama setahun kalender.

Saat itu jurnalis dari media kenamaan Negeri Pizza itu mengajak sejumlah media top Eropa seperti Bild, Blick, A Bola, l'Equipe, France Football, Marca, Mundo Deportivo, Ta Nea, Sport Express, De Telegraaf, dan The Times, untuk menjadi juri.

Setiap juri menominasikan lima pemain, lalu pemain yang paling dianggap paling mendapat 10 poin, lalu 7 poin di posisi kedua, 5 ketiga, 3 keempat, dan 1 posisi terakhir.

Lalu muncullah nama Rafael van der Vaart, gelandang muda Belanda yang kala itu jadi pemenang pertama award ini. Kemudian berturut-turut ada nama Wayne Rooney, Lionel Messi, Cesc Fabregas, Sergio Aguero, Anderson, Alexandre Pato, Mario Balotelli, Mario Goetze, Isco, Paul Pogba, dan terakhir Raheem Sterling.

Dari sederet nama itu jelas Messi jadi "alumnus" Golden Boy yang paling sukses dengan sederet gelar di level klub dan individu yang didapatnya. Tapi tak melupakan juga bagaimana peran Rooney, Fabregas, Aguero, Pogba, dan Sterling di klub masing-masing saat ini.

Mereka yang bersinar di saat muda kini tengah menikmati buah kerja keras di lapangan hijau. Tapi cerita itu tak melulu soal kesuksesan, karena ada dari mereka yang justru kariernya cepat melesat dan menghilang bak ditelan bumi.

Nama teranyar adalah Anderson, gelandang asal Brasil yang memenangi trofi Golden Boy di 2008, sempat digadang-gadang bakal jadi pesepakbola top Eropa. Namun eks pemain Porto ini malah gagal total selama delapan tahun bermain bagi Manchester United.

Okelah dia masih mampu meraih empat trofi Premier League dan satu Liga Champions, tapi perannya di lini tengah tak signifikan dan malah dalam tiga tahun terakhir dia lebih banyak berkutat dengan cedera.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cuma tampil dua kali musim ini, Anderson akhirnya memutuskan pulang kampung untuk bermain di klub peserta Liga Brasil, Internacional Porto Alegre.

Sebelum Anderson, ada nama Pato, pemenang di 2009, yang di awal kariernya bersama AC Milan begitu cemerlang. Tapi sayang sejak 2010, cedera kerap kali menghantamnya yang membuat penampilan Pato menurun drastis sebelum akhirnya dia kembali ke Brasil.

Di Brasil pun karier Pato belum juga kembali ke level terbaiknya, karena dia harus dipinjamkan ke Sao Paulo setelah tak oke bersama Corinthians.

Ada juga Balotelli, yang sepanjang kariernya malah disibukkan dengan hal-hal berbau kontroversi baik di dalam maupun luar lapangan. Sinarnya cuma terlihat saat membawa Manchester City menjuarai Premier League di 2012, tapi setelah itu penyerang Italia itu naik-turun performanya termasuk saat ini bersama Liverpool.

Van der Vaart sebagai pemenang perdana award ini pun terbilang biasa-biasa saja, karena dia tidak pernah bisa benar-benar mendunia layaknya Arjen Robben atau Robin van Persie, rekan seangkatannya di timnas Belanda.

Setelah Ajax dan Hamburg, Van der Vaart coba peruntungan di Real Madrid tapi gagal total sebelum pindah ke Tottenham Hotspur dan kini malah kembali lagi ke Hamburg.

Kini patut ditunggu apakah nama-nama seperti Isco, Pogba, dan Sterling akan bernasib sama seperti Anderson dkk, layu sebelum berkembang.

(mrp/fem)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads