Italia Diuji Pertahanan Gerendel Malta

Jelang Kualifikasi Piala Eropa 2016

Italia Diuji Pertahanan Gerendel Malta

Rossi Finza Noor - Sepakbola
Kamis, 03 Sep 2015 11:36 WIB
Italia Diuji Pertahanan Gerendel Malta
Getty Images/Claudio Villa
Florence -

Dalam pandangan pelatih tim nasional Italia, Antonio Conte, Malta adalah tim yang amat defensif. Menjadi tugas berat timnya untuk membongkar pertahanan yang layaknya gerendel tersebut.

Italia belum pernah kalah pada perhelatan Kualifikasi Piala Eropa 2016, di mana mereka tergabung di Grup H. Dari enam pertandingan sejauh ini, Azzurri meraih tiga kemenangan dan tiga hasil imbang.

Banyaknya hasil imbang yang diraih membuat Italia harus puas duduk di urutan kedua klasemen grup. Di atas mereka ada Kroasia, yang juga belum terkalahkan. Dari enam laga sejauh ini, Kroasia meraih empat kemenangan dan dua hasil imbang. Tim besutan Niko Kovac itu unggul satu poin di atas Italia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Italia akan menjamu Malta di Florence, Kamis (3/9) malam waktu setempat. Pada pertemuan pertama, Oktober tahun lalu, Italia hanya menang tipis 1-0 berkat gol tunggal Graziano Pelle. Padahal, Malta hanyalah juru kunci di Grup H --dari enam kali main, mereka belum pernah menang.

Conte menyebut, Malta bermain amat defensif. Mereka terbiasa menaruh delapan orang di lini pertahanan sendiri sembari menunggu kesempatan untuk melakukan serangan balik.

"Jelas pertandingan ini tidak akan mudah. Malta telah mengalami banyak kemajuan, semua berkat pelatih mereka, Pietro Ghedin," ujar Conte di Football Italia.

Ghedin sendiri tidak inferior. Dengan tegas dia mengatakan, Malta datang ke Florence bukan sebagai tim yang sudah pasti akan kalah.

"Kami siap menghadapi pertandingan ini dan skuat kami berada dalam kondisi yang baik."

"Ini adalah pertandingan antara tim kedua di grup dan tim yang berada di paling bawah. Itu saja sudah mengatakan betapa sulit laga ini. Tapi, bukan berarti kami sudah kalah duluan," ucap Ghedin.

Satu-satunya "prestasi" Malta di Grup H adalah menahan imbang Bulgaria 1-1, November 2014. Setelahnya, mereka melakoni tiga laga internasional, di mana dua di antaranya berakhir dengan kekalahan dan satu lainnya berujung kemenangan.

Gagal menang lagi, Conte bisa berada dalam sorotan. Namun, dia tahu bahwa tekanan merupakan bagian dari pekerjaannya sebagai pelatih timnas Italia.

"Di Italia, kita semua hampir selalu protes terhadap segala hal. Ketika tim nasional gagal menang, kita semua akan menganggapnya sebagai kegagalan. Saya paham itu."

"Menjadi pelatih tim nasional levelnya beda dengan klub," kata Conte.


(roz/din)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads