Paris diguncang serangan teror yang terjadi setidaknya di tujuh tempat dalam waktu yang berdekatan pada Jumat (13/11/2015) lalu. Teror diawali di area stadion Stade de France tempat bergulirnya laga persahabatan antara Prancis kontra Jerman, lalu disusul serangan lain di gedung konser dan sejumlah restoran.
Serangan ini menewaskan setidaknya 150 orang. Ini menjadi insiden berdarah berikutnya setelah pada Januari lalu kantor surat kabar Charlie Hebdo ditembaki dua orang yang membunuh dua orang dan melukai 11 lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau kami membatalkan ajang ini, kami terseret dalam permainan teroris," ujarnya kepada RTL dan dikutip AS.
Tapi kejadian ini bagaimanapun memengaruhi atmosfer Piala Eropa 2016 nanti, seperti diyakini Ferdinand. Dia percaya akan ada aura ketakutan yang menyelimuti.
"Musim panas nanti Prancis akan menggelar Piala Eropa, tapi ini akan jadi turnamen yang sangat berbeda. Suka atau tidak, ketakutan akan menghantui sejumlah orang sampai ke titik di mana mereka tak mau datang ke stadion," tulisnya di The Sun dan dikutip Sportsmole.
"Pengamanan intens yang tak diragukan lagi bakal diperlukan, akan menyingkirkan kebebasan dan kesenangan yang ajang-ajang seperti ini bawa. Saya sudah pernah ke negara-negara di mana jalan hidup orang-orangnya begitu berbeda dengan kami."
"Mereka hidup dengan tanpa mengetahui kekejaman seperti apa yang mungkin menimpa mereka. Perasaan itu jelas asing bagi saya. Tapi serangan teroris yang telah ada di Tunisia, Mesir, dan sekarang Prancis membuat kita semua mengubah pandangan," imbuh mantan pemain Manchester United ini.
(raw/raw)











































