Misi Perdamaian Mourinho di Israel

Misi Perdamaian Mourinho di Israel

- Sepakbola
Senin, 28 Mar 2005 06:35 WIB
Jakarta - Peran global dilakoni Jose Mourinho setelah pelatih Chelsea asal Portugal itu memperoleh kehormatan sebagai duta misi perdamaian di Israel hari Minggu (27/3/2005) waktu setempat.Mengenakan baju biru bertuliskan "Jose Mourinho coach for peace", pria berusia 42 tahun itu hadir di stadion Ramat Gan, dekat Tel Aviv, atas undangan peraih Nobel Perdamaian 1994 yang kini menjabat Deputi Perdana Menteri Israel, Shimon Peres, selaku pendiri lembaga Shimon Peres Centre for Peace.Di stadion tersebut Mourinho menyaksikan pertandingan yang melibatkan anak-anak Israel dan Palestina sebagai sebuah inisiatif untuk perdamaian, yang sudah berpuluh-puluh tahun tak pernah tercipta di kawasan Timur Tengah tersebut.Dikelilingi oleh sekitar 200 anak yang memakai kaos bertuliskan "right of play", Mourinho berharap keberadaannya di Israel menjadi sebuah isyarat akan harapan. "Saya datang untuk menunjukkan bahwa negeri ini (Israel) aman dan sedang menuju arah yang benar," ujarnya dikutip AFP, Senin (28/3/2005)."Saya sedang berusaha menjadi anggota dunia yang lebih baik. Saya rasa apa yang tengah dilakukan Mr. Peres ini sangatlah penting. Saya percaya itu dan jika bisa ambil bagian, saya akan melakukannya dan saya siap." Sementara itu Peres mengatakan, lembaganya berupaya memperlihatkan bahwa sepakbola bisa menjadi jembatan jurang di antara orang-orang Yahudi dan Arab, di mana saat ini terdapat 1.400 anak-anak sebagai anggota Centre for Peace."Lihatlah apa yang telah dibawa sepakbola bagi terciptanya saling pengertian di antara Yahudi dan Arab, di antara orang-orang Palestina dan Israel," ujarnya seraya menunjuk pada klub Arab pemenang turnamen Piala Israel, Bnei Sakhnin, yang anggota skuadnya terdiri dari orang-orang Yahudi dan Arab.Salah satu arsitek Kesepakatan (Perdamaian) Oslo 1993 di antara pemerintah Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Ron Pundak, memberikan opininya tentang lembaga tersebut."Di Peres Peace Centre kami berpikir bahwa sepakbola adalah sebuah bahasa, sebuah makna untuk anak-anak Palestina dan Israel agar saling mengenal dan beraktivitas seperti biasa," tuturnya. (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads