sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Kamis, 26 Nov 2020 21:30 WIB

Maradona dalam Kenangan: Dewa Saat Main, Manusia Biasa Saat Melatih

Mohammad Resha Pratama - detikSport
LA PLATA, ARGENTINA - FEBRUARY 29: Diego Armando Maradona head coach of Gimnasia y Esgrima La Plata sits on the bench before a match between Gimnasia y Esgrima La Plata and Atletico Tucuman as part of Superliga 2019/20 at Estadio Juan Carlos Zerillo on February 29, 2020 in La Plata, Argentina. (Photo by Marcos Brindicci/Getty Images) Karier Diego Maradona sebagai pelatih tidak cemerlang (Getty Images/Marcos Brindicci
Jakarta -

Karier pesepakbola tak selamanya berbanding lurus saat dia masih jadi pelatih. Mendiang Diego Armando Maradona adalah contoh nyata.

Dunia sepakbola tengah berduka karena kematian Maradona yang mendadak, Rabu (25/11/2020) malam WIB. Maradona menghembuskan nafas terakhir di usia 60 tahun karena henti jantung.

Kepergian Maradona ini menimbulkan duka yang mendalam, terutama untuk masyarakat Argentina. Bagaimana tidak, Maradona sudah dipuja sedemikian hebatnya dan bahkan dianggap sebagai Tuhan.

Bukan tanpa alasan mengingat pencapaian Maradona sebagai pemain begitu luar biasa. Meski diliputi banyak kontroversi, termasuk kecanduannya akan kokain, Maradona tetaplah dewa sepakbola.

Argentina terakhir kali juara dunia bersama Maradona di tahun 1986. Saat itu Maradona menggemparkan dunia lewat gol Tangan Tuhan dan juga gol solo run ke gawang Inggris.

Selain itu, Maradona juga bergelimang gelar semasa bermain di level klub seperti Boca Juniors, Barcelona, dan Napoli. Kariernya benar-benar moncer di Napoli kala membawa tim itu dua kali Scudetto dan satu Piala UEFA.

Tapi, karier cemerlang Maradona di lapangan hijau tak berarti apapun saat dia jadi pelatih. Memulai karier kepelatihannya di tim lokal Argentina, Textil Mandiyu pada Januari 1994, Maradona tak pernah bertahan lebih dari 38 pertandingan di sebuah klub!

Dia cuma bertahan enam bulan di Mandiyu sebelum menangani Racing Club pada 1995. Cuma bertahan empat bulan di sana, Maradona lantas menghilang selama 13 tahun sebelum ditunjuk menangani Timnas Argentina pada November 2008.

Karier Maradona bersama Tim Tango juga naik turun karena nyaris gagal lolos ke Piala Dunia 2010. Di Piala Dunia tersebut, Maradona juga gagal total meski punya Lionel Messi dan beberapa pemain top lainnya.

Argentina cuma sampai babak perempatfinal sebelum disikat 0-4 oleh Jerman. Dia akhirnya memutuskan pergi setelah turnamen berakhir karena perselisihan dengan petinggi Federasi Sepakbola Argentina (AFA).

Setelah di Argentina, Maradona melanglangbuana ke dua klub Uni Emirat Arab, Al-Wasl dan Fujairah, tapi lagi-lagi gagal total. Bahkan setelah dipecat Al-Wasl, Maradona sempat vakum melatih lima tahun.

Maradona kemudian pindah ke klub Meksiko, Dorados, pada September 2018 tapi tidak sampai setahun dipecat. Klub terakhir yang ditangani Maradona adalah Gimnasia La Plata sedari September 2019, hingga akhirnya meninggal kemarin.

Selama 140 laga menangani klub, Diego Maradona tak pernah meraih gelar apapun dan selalu dipecat. Rasio kemenangannya cuma 47,86 persen yakni 67 laga, lalu sisanya 31 seri dan 42 kali kalah.

(mrp/rin)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com