Inggris Terapkan 'Paspor Vaksin' di Euro 2020, Apa Itu?

Yanu Arifin - Sepakbola
Rabu, 09 Jun 2021 15:40 WIB
Vaksinator memberikan vaksin kepada warga di kawasan RPTRA Sindang Raya, Koja , Jakarta Utara, Senin (7/6). Vaksin tersebut diberikan kepada warga dengan rentang umur 18 - 58 tahun.
Bukti penggunaan vaksin Virus Corona akan diterapkan Inggris di Euro 2020. (Foto: Pradita Utama/dok. detikcom)
London -

Inggris punya metode untuk menyemarakkan gelaran Euro 2020 di negaranya. Penggunaan 'paspor vaksin' kini siap diterapkan.

Inggris menjadi salah satu tuan rumah gelaran Euro 2020, yang dimulai 12 Juni mendatang. Inggris menjadi tuan rumah fase grup, babak 16 besar, semifinal, dan final.

Jelang dihelatnya pesta sepakbola benua biru itu, pemerintah Inggris memberi lampu hijau ke suporter yang ingin datang ke stadion. Dilansir Guardian, penggunaan 'paspor vaksin' akan diterapkan agar suporter bisa mendukung Timnas Inggris di Euro 2020.

Para suporter Inggris nanti bisa menyaksikan pertandingan pembuka Grup D Euro 2020 saat melawan Kroasia, Minggu (13/6/2021), bisa menunjukkan bukti telah divaksinasi tahap kedua, lewat aplikasi National Health Service (NHS). Program itu sudah disetujui UEFA.

Departemen Digital, Budaya, Media, dan Olahraga ingin mengenalkan konsep paspor vaksin kepada masyarakat luas. Program ini juga tahapan lanjutan dalam uji kelayakan menggelar acara untuk publik sebelum lockdown dibuka.

Nantinya, UEFA bertanggung jawab untuk menyampaikan peraturan Covid-19 kepada penggemar. Kemudian pada hari Selasa, penggemar harus mengkonfirmasi bukti suntikan vaksin kedua, setidaknya 14 hari sebelum pertandingan, untuk bisa dijamin masuk ke stadion.

Selain itu, semua pendukung Inggris lainnya diharapkan menunjukkan konfirmasi hasil negatif virus corona dalam tes yang dilakukan 48 jam setelah pertandingan Euro 2020. Fans yang datang dari luar negeri juga diharapkan demikian, termasuk suporter Kroasia, yang mana masuk zona kuning atau harus menjalani karantina 10 hari.

Kembali ke penggunaan paspor vaksin, Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah melarang penerapan sistem itu. Sebab, WHO beranggapan hal itu menjadi bentuk diskriminasi buat orang yang belum vaksin. Selain itu, tingkat keberhasilan vaksin juga masih terus diteliti, sehingga belum ada jaminan 100 persen bisa menangkal virus corona.

(yna/krs)