Demam Euro 2020 di 'Kampung Bola' Pesisir Utara Pasuruan

Muhajir Arifin - Sepakbola
Selasa, 15 Jun 2021 02:20 WIB
Kampung di Pasuruan, Jawa Timur,  demam Euro 2020.
Demam Euro 2020 di kampung bola di desa di pesisir utara Pasuruan, Jawa Timur. (Foto: detikcom/Muhajir Arifin)
Pasuruan -

Demam Euro 2020 melanda pesisir utara Pasuruan, Jawa Timur. Kibaran bendera peserta 'Piala Dunia Mini' membawa atmosfernya terasa di sana.

Puluhan bendera negara-negara peserta dalam ukuran besar dikibarkan di sepanjang jalan, Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.

Suasana kampung yang mayoritas penduduknya nelayan warna-warni dengan bendera Spanyol, Jerman, Inggris, Portugal, Italia, Belgia dan lainnya.

Ingar-bingar menyambut Euro 2020 sudah terasa sejak dua minggu sebelumnya. Warga sudah mulai memasang bendera. Setiap rumah rata-rata memasang satu bendera, ada yang mengibarkan dua bendera bahkan lebih.

"Warga memasang bendera jagoannya masing-masing," kata Samsul Arif (41), salah seorang warga, Senin (24/6/2021).

Antusiasme tersebut ternyata tak hanya saat Euro 2020. Menurut Samsul, hal itu juga dilakukan menyambut kejuaraan sepakbola internasional lain.

"Ini memang sudah dari dulu. Kalau ada Piala Dunia, Piala Eropa maupun piala amerika, seluruh warga pasang bendera negara peserta. Saat Piala Dunia jauh lebih ramai," terang Samsul.

Kampung di Pasuruan, Jawa Timur,  demam Euro 2020.Kampung di Pasuruan, Jawa Timur, demam Euro 2020. (Foto: detikcom/Muhajir Arifin)

Agus Budianto (45), warga lain mengatakan ukuran bendera yang dikibarkan bervariasi. Mulai dari 3×5 meter hingga 10×20 meter.

"Warga nggak beli jadi. Beli kain lalu dijahit sendiri. Warga punya beberapa bendera," kata Agus.

Agus mengatakan biaya yang digunakan untuk membuat bendera mulai Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Harga itu tak dipedulikan oleh warga, karena memang rata-rata adalah penggila bola.

"Kalau sudah suka harga nggak jadi patokan," ujarnya.

Hasani (47), Sekertaris Desa Gerongan, menjelaskan pengibaran bendera menyambut kejuaraan sepakbola internasional sudah dilakukan sejak tahun 80-an. Sampai saat ini, kebiasaan itu terus dilakukan.

"Sejak saya kecil. Zaman bapak saya dulu sudah ada. Karena itu kampung ini dikenal sebagai 'Kampung Bola'," ucapnya.

Pada tahun-tahun sebelumnya, deman bola di kampung ini sangat heboh. Selain diselingi dengan nonton bareng, warga biasanya menurunkan bendera negara yang sudah tersingkir dari kompetisi, kali ini Euro 2020, beramai-ramai.

"Kalau tak pandemi, biasanya mesti ada nobar dan lain-lain. Namun, saat ini ditiadakan dulu," kata Hasani.

(cas/yna)