ADVERTISEMENT

Juju, Voodoo, dan Piala Afrika

Kris Fathoni W - Sepakbola
Senin, 10 Jan 2022 10:40 WIB
Nigerias national football team players hold the trophy as they celebrate winning the 2013 African Cup of Nations final against Burkina Faso on February 10, 2013 at Soccer City stadium in Johannesburg.   AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO / AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO
Trofi Piala Afrika. (Foto: AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Jakarta -

Piala Afrika 2021, yang resminya masih mengusung label itu walaupun digelar awal 2022, sudah dimulai. Akankah hadir pula kisah-kisah juju dan voodoo di ajang yang juga disebut AFCON atau CAN itu?

Awalnya turnamen ini dijadwalkan untuk digelar 9 Januari-6 Februari 2021. Tapi situasi pandemi COVID-19 membuat Piala Afrika harus mundur satu tahun.

Kini Piala Afrika 2021 sudah dimulai sedari 9 Januari 2022. Turnamen akan berlangsung sampai dengan 6 Februari 2022 di enam venue dari lima kota penyelenggara di Kamerun.

Selain menghadirkan sejumlah bintang top dunia, yang terkadang dikeluhkan oleh klub yang menaungi pemain itu lantaran pemanggilan di tengah musim dan potensi pulang membawa cedera, Piala Afrika juga menarik dipantau karena lazim menyelipkan kisah-kisah klenik seputar ilmu hitam, seperti juju (jimat dan jampi-jampi) atau voodoo.

Ilmu hitam ini sendiri bukan sekadar gimmick tapi benar-benar dipraktikkan dan bahkan diyakini keampuhannya oleh sejumlah pihak termasuk para pemain.

Dalam konteks Piala Afrika, Goran Stevanovic yang mantan pelatih Ghana bahkan pernah menyatakan bahwa ilmu hitam di benua Afrika benar-benar bukan sekadar fantasi. Kegagalan timnya di Afcon 2012 bahkan ia yakini lantaran para pemainnya sibuk bersinar sendiri dengan adu jimat, alias saling bersaing internal di dalam skuad.

Bahkan tahun lalu gelaran turnamen Afrika lain yakni Kejuaraan Sepakbola Afrika 2021 atau atau Championnat d'Afrique des nations de football (CHAN), sempat diramaikan dengan dugaan ilmu hitam akibat kehadiran kelelawar di lapangan.

Dalam laga perdana, antara tuan rumah Kamerun Vs Zimbabwe, tim tamu menuding kalau tuan rumah main ilmu hitam. Tudingan dilontarkan Zdravko Logarusic, pelatih asal Kroasia yang menangani Zimbabwe, setelah menemukan seekor kelelawar mati di tengah lapangan pertandingan. Bangkai kelelawar itu disebutnya sebagai jejak praktik ilmu hitam.

Bukan cuma di level timnas, pada sepakbola tingkat klub pun dugaan unsur magis lazim hadir di Afrika. Bahkan medio 2016 silam, Federasi Sepakbola Rwanda (FERWAFA) memberlakukan larangan aksi jampi-jampi dalam laga sepakbola.

Peraturan ini diberlakukan setelah adanya adegan yang diduga melibatkan jampi-jampi di gawang salah satu tim, yang lantas berujung pada kekerasan antarpemain.

"Dalam statuta FERWAFA kami tak punya peraturan untuk menghukum penggunaan ilmu sihir karena di dunia ini pun tak ada bukti hal tersebut bisa memengaruhi hasil pertandingan," kata Wakil Presiden FERWAFA Vedaste Kayiranga saat itu.

"Akan tetapi, dengan adanya kekerasan antarpemain karena tudingan salah satu tim menggunakan jampi-jampi ilmu sihir, kami sudah memutuskan untuk memberlakukan peraturan tersebut," lanjutnya seperti dilansir Mirror.

Melansir Goal.com, mantan pesepakbola Emeka Ezeugo juga pernah menyatakan bahwa ketika dirinya masuk timnas Nigeria pada tahun 1987, dirinya melihat juju di mana-mana. Para pemain menggantungkan beragam jimat di ruang ganti, berharap bisa mendapatkan tuah dari juju itu.

Peter Odemwingie, mantan pemain timnas Nigeria lain, juga pernah menyebut bahwa para pesepakbola Afrika bahkan lebih percaya pada pengobatan dukun dan 'orang pintar' ketimbang dokter saat mengalami cedera.

"Paling tidak 70 persen pemain percaya hal itu. Mereka pikir semacam ramuan akan menyelamatkan mereka. Ini lebih pada sugesti," katanya kepada Championat.

(krs/rin)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT