Arsenal: Menanggalkan Baju Keinggrisan

Arsenal: Menanggalkan Baju Keinggrisan

- Sepakbola
Rabu, 17 Mei 2006 02:48 WIB
Arsenal: Menanggalkan Baju Keinggrisan
London - Ketika Celtic menjadi klub pertama dari Inggris Raya yang memenangkan Piala Champions tahun 1966/1967, semua pemain mereka berasal dalam radius 30 menit dari stadion Celtic Park. Artinya kesemua pemain lahir dan matang dalam buaian pengaruh ke-celtic-an.Tentu hal itu tak akan terulang lagi, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. Kesuksesan Celtic adalah contoh yang sangat ektrim dari sebuah kesuksesan lokalitas.Menjelang final Liga Champions kali ini kita dihadapkan dalam bentuk ekstrim yang sebaliknya. Arsenal menjadi klub yang didominasi oleh pemain yang bukan sekadar di luar "catchment area" Arsenal, tetapi asing, luar Inggris. Tercatat hanya Ashley Cole dan Sol Campbel sebagai pemain utama yang asli Inggris. Komposisi pemain Arsenal menunjukkan terjadinya perubahan radikal demografi pemain di belantika klub Inggris. Kini klub-klub Inggris, utamanya di Premiership, hampir dipastikan akan memiliki pemain asing.Terjadi semacam migrasi kepercayaan: kalau Anda ingin sukses (di Eropa), ambillah pemain asing. Tentu pemain asing yang bagus bukan kacangan. Pemain asing harus diakui rata-rata mempunyai skil yang lebih bagus dari pemain Inggris.Tetapi tentunya masih ada sedikit kepercayaan untuk menjaga cita rasa keinggrisan. Pemain asing boleh mendominasi, tetapi tulang punggung tetap harus Inggris asli. Karena siapa yang menjaga kekhasan klub Inggris kecuali pemain Inggris sendiri: pantang menyerah, jujur (gentleman), bekerja keras dan fisik yang super prima. Chelsea yang penuh dengan pemain asing kelas satu masih menggunakan pemain Inggris sebagai urat nadi permainannya: John Terry sebagai kapten, Frank Lampard pengatur serangan dan wakil kapten, serta Joe Cole di sayap.Kembali ke Arsenal, klub ini sangat berbeda. Ciri keinggrisan klub ini di lapangan hampir hilang sama sekali. Arsene Wenger, walau mengakui dan mengagumi jiwa permainan Inggris, tidak percaya sebuah klub harus mencerminkan nilai-nilai itu. Bagi Wenger yang penting pemain itu bagus dan layak bermain, tidak peduli asalnya, latar belakang budayanya, atau apapun juga. Wenger sendirilah sang pemadu bakat dan perumus permainan.Kalau ada yang menyebut gaya permainan Arsenal sangat tidak Inggris, Wenger akan membantahnya, tapi ia juga tidak akan keberatan. Karena bagaimana mungkin bermain dengan jiwa orang Inggris ketika tidak ada pemain Inggris di dalam tim? Cita rasa keinggrisan bagi Wenger lebih pada aspek kedekatan hubungan antara pendukung/penonton dengan pemain. Cita rasa keinggrisan adalah dukungan tanpa henti penonton kepada klub mereka dalam situasi apapun. Menurut pengakuan Wenger aspek ini pulalah yang menariknya untuk melatih Arsenal.Banyak yang mengejek Arsenal sebagai Republik Prancis di London Utara. Karena memang tulang punggung tim ini datang dari pemain-pemain Prancis atau setidaknya negara-negara yang berbahasa Prancis. Tetapi apakah pendukung Arsenal, Wenger atau dewan direktur Arsenal peduli? Tentu saja tidak.Pendukung Arsenal maupun dewan direktur Arsenal mengerti ketika mereka memilih Wenger di tahun 1996 sebagai pelatih asing pertama dalam sejarah Arsenal, sebuah revolusi sedang dimulai. Arsenal mulai berpaling dari keinggrisan mereka. Akankah revolusi berbuah hasil dengan menjadi klub pertama London yang mampu menjadi juara Liga Champions? Foto: Jens Lehman dan Robert Pires. Dominasi asing di sebuah klub Inggris. (itv) (a2s/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads