Polisi Pakai Gas Air Mata ke Suporter di Argentina, Satu Tewas

ADVERTISEMENT

Polisi Pakai Gas Air Mata ke Suporter di Argentina, Satu Tewas

Yanu Arifin - Sepakbola
Jumat, 07 Okt 2022 15:51 WIB
La Plata -

Tragedi Kanjuruhan memakan seratusan korban jiwa karena gas air mata. Di Argentina, kejadian memilukan serupa baru terjadi. Nyawa seorang suporter pun melayang.

Melansir BBC, laga Gimnasia vs Boca Juniors di Liga Argentina terpaksa dihentikan akibat bentrok polisi dan suporter di luar Stadion Juan Carmello Zerillo, La Plata, Jumat (7/10/2022). Padaha, laga baru berjalan 10 menit.

Di dalam insiden tersebut polisi dan suporter terlibat bentrok. Belum diketahui pemicunya. Guna memukul mundur suporter, polisi sampai menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Apesnya, ada satu suporter yang kembali menjadi korban kekerasan aparat. Peristiwa itu memaksa pertandingan dihentikan.

Penonton yang berada di tribune sampai berlari ke lapangan, untuk mencari ruang terbuka dan aman. Fans menerobos pagar untuk mencoba masuk ke lapangan stadion Carmelo Zerillo di La Plata.

Tak lama kemudian, Menteri Keamanan Buenos Aires Serguo Berni mengonfirmasi satu penonton tewas. Pria berusia 57 tahun terkonfirmasi tewas akibat serangan jantung, saat dipindahkan dari stadion ke rumah sakit.

Bentrok itu kini coba diusut, dengan dugaan awal adalah penjualan tiket yang melebihi kapasitas.

Wasit Hernan Mastrangelo mengatakan, situasinya sungguh buruk. Ia menyebut gas air mata membuat udara tak bisa dipakai bernapas.

"Itu mempengaruhi kami semua di lapangan. Udara menjadi tidak bisa dipakai untuk bernapas. Situasi menjadi tidak terkendali dan tidak ada jaminan keamanan," katanya.

Kejadian di Argentina itu cuma berselang sepekan, sejak peristiwa serupa juga terjadi di Indonesia. Di Stadion Kanjuruhan, usai laga Arema FC vs Persebaya Surabaya, ratusan suporter tewas, yang banyak dinilai akibat kekerasan aparat.

Invasi suporter ke lapangan, ditanggapi aparat dengan kekerasan. Pentungan, tendangan, dan gas air mata ditembakkan polisi ke beberapa area stadion, yang menyebabkan kepanikan di tribune.

Banyak penonton kemudian bernasib malang, karena terinjak-injak dan kehabisan napas karena kesulitan keluar dari stadion. Sebanyak 131 penonton tewas, menjadikan Tragedi Kanjuruhan tragedi sepakbola terbesar kedua di dunia.

(yna/aff)

ADVERTISEMENT