Final Liga Champions
Juara yang Bukan Juara
Selasa, 22 Mei 2007 10:45 WIB
Jakarta - Sesuai namanya, Liga Champions (harusnya) menjadi liga-liga juara Eropa. Tapi faktanya tak seperti itu, termasuk tahun ini yang menggelar final antara AC Milan dan Liverpool.Liga para juara, jargon itulah yang diusung UEFA saat pertama kali menggelar Liga (dahulu Piala) Champions sekitar 52 tahun lalu. Saat itu memang hanya juara para liga domestik yang berhak tampil di turnamen tersebut.Namun kondisi tersebut berubah mulai musim 1992-1993 saat UEFA menggunakan sistem kualifikasi baru. Seiring perubahan nama dari Piala Champions menjadi Liga Champions, klub-klub yang duduk di posisi dua bahkan empat di klasemen liga domestik bisa merasakan kompetisi klub nomor satu di dunia itu.Contoh mudahnya bisa dilihat musim ini. Dua finalis yang akan berlaga di Athena, Kamis (24/5/2007) dinihari, justru bukan juara di liganya masing-masing. Liverpool cuma berperingkat tiga Premiership musim lalu, posisi yang sama dimiliki AC Milan di Seri A (setelah penalti akibat skandal calciopoli).Sementara musim ini Paolo Maldini cs masih duduk di urutan empat dan tertinggal 33 angka dari Inter Milan. Sedangkan Steven Gerrard dkk berada di posisi ketiga klasemen akhir 2006-07.Begitulah faktanya. Setidaknya sejak perubahan format menjadi Liga Champions ada tiga klub (empat dengan musim ini) yang merajai Eropa tapi gagal menguasai negaranya sendiri.Gelar juara kelima yang diraih Liverpool dua musim lalu didapat saat kondisi mereka di Liga Inggris jauh dari memuaskan. The Kop masuk ke Liga Champions musim itu melalui babak kualifikasi ketiga karena cuma finis di posisi empat.Nama Milan kembali muncul untuk kasus tahun 2003 lalu. Uniknya Rossoneri yang cuma finis di posisi empat Seri A justru mampu menundukkan Juventus di final Liga Champions. Padahal saat itu Bianconeri justru datang membawa gelar scudetto alias juara Liga Italia (!).Kondisi serupa terjadi pada Manchester United saat meraih treble yang kesohor itu di musim 1999. Saat itu The Red Devils masuk Liga Champions hanya sebagai runner-up di bawah Arsenal.Tapi klub-klub tersebut punya opini lain soal kegagalan di kompetisi domestik dan sukses yang mereka raih di Eropa. Dengar saja komentar Carlo Ancelotti soal performa timnya yang tak stabil di Seri A, tapi mampu menembus empat semifinal Liga Champions dalam lima musim terakhir. "Tradisi kami di Eropa dan filosofi kami sebagai sebuah klub memiliki peran penting. Liga Champions adalah yang terpenting buat kami," seru pelatih yang mengantar Milan ke tiga final Liga Champions dan merengkuh satu gelar juara itu.Milan dan Liverpool tak akan berada di Athena jika Liga Champions hanya di peruntukkan untuk juara liga domestik. Tapi dalam perjalanannya menuju final keduanya justru mampu menundukkan raja-raja lokal. The Reds menjungkalkan Barcelona dan Chelsea, sementara I Diavolo Rosso menjegal Bayern Munich serta Celtic. Jadi suka atau tidak, hari Kamis nanti salah satunya tetap sudah bergelar juara Eropa. (din/mel)











































